Ragam Minuman Herbal Buatan Perpustakaan Omah Cikal di Lereng Telomoyo

Aneka minuman serbuk yang dijual Perpustakaan Omah Cikal

Kunjungan di Desa Menari Tanon telah selesai. Saya meminta izin pamitan ke Pak Trisno dan warga setempat yang sedang kumpulan di rumah warga. Masih ada satu tempat yang ingin saya kunjungi. Sebuah perpustakaan desa di desa Ngrawan. 

Desa Ngrawan terbagi menjadi beberapa kampung. Di sini juga pemuda tanggap dalam membuat inovasi. Salah satunya dengan membangun perpustakaan desa di rumah warga. Perpustakaan ini menjadi tempat berkreasi pada muda-mudi dan anak-anak. 

Desain ruangan yang sederhana. Memanfaatkan ruangan lapang di rumah, Mas Agus menyulap tempat ini sebagai tempat baca. Tidak banyak koleksi, rak kecil terbuat dari papan menjadi penyanggah buku. 

Sebagian besar buku merupakan sumbangan dari para donatur. Pak Trisno menghibahkan sebagain koleksinya untuk perpustakaan ini. Pun dengan mahasiswa-mahawiswa yang berdatangan. Selain itu, ada juga koleksi hibah dari kolega Mas Agus. 
Perpustakaan Desa Omah Cikal di Ngrawan
Perpustakaan Desa Omah Cikal di Ngrawan

“Tidak banyak koleksinya, mas. Paling penting anak-anak punya asupan bacaan.” 

Saya terdiam, membayangkan aktivitas anak-anak kala senggang membaca buku atau asyik bermain di tempat ini. Perpustakaan Omah Cikal tidak hanya menjadi tempat beraktivitas muda-mudi dan anak-anak. Di sini mereka juga mengolah minuman herbal yang bisa dijual. 

Olahan Rempah Menjadi Minuman Herbal 

Dua rak buku menjadi pemandangan biasa di sebuah perpustakaan. Satu pemandangan yang berbeda bagi saya adalah tumpukan minuman kemasan berbagai warna yang membuat penasaran. Saya melihat sekilas, ini semacam minuman herbal. 

Keranjang plastik di samping tumpukan buku penuh kemasan dengan logo seorang anak kecil sedang membaca buku bersampul biru. Tak ketinggalan tulisan Omah Cikal Perpustakaan Desa. Empat warna kemasan ini berbeda-beda bahannya. 

“Ini buat sendiri?” Saya masih penasaran. 

“Warga desa yang membuat mas. Kami membantu bagian pengemasan dan promosi.” 

Potensi-potensi warga desa diberdayakan. Termasuk membuat minuman berasal dari berbagai rempah yang biasa ditanam warga. Jahe menjadi minuman herbal yang paling sering dibuat dalam bentuk serbuk dan dibungkus kemasan yang menarik. 
Minuman Wedang dari olahan Jahe, Kunyit, Serai, dan Bit
Minuman Wedang dari olahan Jahe, Kunyit, Serai, dan Bit

Saya memilah-milah minuman serbuk yang sudah dikemas. Ada empat jenis minuman yang tersedia. Jahe, Kunyit, Serai, dan Beet. Pada kemasan, ditulis dengan nama serbuk. Untuk membedakan bahan yang digunakan disesuaikan dengan warnanya. 

Serbuk Jahe dikemas dengan warna coklat muda. Kunyit dengan kemasan berwarna kuning, serai biru, dan serbut beet dengan kemasan warna merah muda. Keseluruhan minuman herbal serbuk ini takarannya 150 gram. 

Dari keempat minuman serbut yang disebutkan. Saya agak asing dengan buah beet atau bit. Mungkin saya sendiri belum pernah melihat buah bit ini. Berhubung penasaran, saya membuka perambah untuk melihat wujudnya. Benar- benar belum pernah melihat umbian jenis ini. 

Mas Agus berujar, salah satu pemasukan dari perpustakaan ini berasal dari jualan serbuk tersebut. Selain itu, kreasi muda-mudi dalam bentuk figura, jam dinding pun juga sebagai pemasukan yang lainnya. Masyakarat di sini cukup pintar mencari peluang. 

Selama di sini saya mendapat jamuan minum wedang serbuk bit. Rasanya memang cenderung manis dan unik. Setahu saya, semua kemasan yang dijual tersebut sudah tercampur dengan gula. Sehingga tidak perlu lagi kita menambahkan gula saat menyeduh. 

Kebiasaan saya setiap melihat ada polahan produk lokal seperti ini pastinya ingin membeli. Saya bertanya terkait harganya. Mas Agus berujar jika harganya 15.000 rupiah tiap satu kemasan. Berhubung ada empat jenis, saya beli tiap variannya. 
Menyesap wedang jahe kala pagi
Menyesap wedang jahe kala pagi

Empat wedang serbuk harganya 60.000 rupiah. Sebelum saya masukkan tas, terlebih dahulu memotretnya. Lalu kami kembali berbincang terkait literasi di Desa Ngrawan. Saya salut dengan semangat muda-mudi di sini yang peka pentingnya literasi. 

Selain olahan wedang dan souvenir, nantinya di Perpustakaan Omah Cikal ini ingin dibuat semacam angkringan. Targetnya untuk para pelancong yang lewat desa sini saat main ke arah Telomoyo. Suatu ide yang menarik. Menikmati angkringan di lereng Telomoyo. 

Cukup lama saya di sini. Saya berpamitan pulang ke penginapan RedDoorz near STAB Syailendra Kopeng untuk berkemas. Masih ada satu agenda yang harus saya selesaikan, ada permintaan kawan untuk dibelikan bunga. 

Usai pamitan, saya kembali berjalan kaki menuju penginapan. Lumayan juga perjalanan dari Desa Menari Tanon menuju penginapan. Sampai di penginapan, saya istirahat sejenak dan mandi. Setelah ini menunggu kawan yang menjempt. * Kopeng; 21 Desember 2019.

Posting Komentar

0 Komentar