Resensi Novel Orang-orang Biasa Karya Andrea Hirata

Novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata
Novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata
Judul: Orang-orang Biasa (Ordinary People)
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-524-9
Halaman: xii + 300
Cetakan: Pertama tahun 2019
Genre: Fiksi
 

Kabar menggembirakan bagi pecinta novel karya Andrea Hirata. Tahun 2019 ini, satu novel fiksi yang berjudul Orang-orang Biasa terbit. Novel ini menjadi buku yang ke-10 bagi penulis kondang asal Belitung. 

Bagi yang penasaran dengan karya kesepuluh Andrea Hirata, kalian disuguhkan sebuah cerita yang sedikit berbeda dari novel-novel sebelumnya. Jika penasaran dengan isinya, silakan menunggu novel Orang-orang Biasa ini terpajang di tiap etalase toko buku. Saya sendiri mendapatkan setelah ikut dalam pre order novelnya. Baiklah, saya ulas novel ini dari sudut pandang saya sendiri. 

***** 

Belantik, sebuah pulau kecil yang nyaman. Jauh dari hiruk-pikuk politik, tidak ada kriminal, bahkan sekadar maling ayam pun langka. Semua berjalan seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda bakal terjadi sesuatu yang luar biasa. 

Diawali dari cerita inspektur yang mengidolakan Shah Rukh Khan yang bekerja di Belantik. Hingga menceritakan sekelompok anak-anak kecil yang menjadi penghuni tetap Sekolah Dasar. Berbagai cerita panjang menjadikan sekelompok anak kecil ini betah di SD. 

Tohirin, Rusip, Sobri, Dinah, Debut, dan masih banyak lagi nama-nama tokoh anak SD yang tidak punya cita-cita masa depan. Tahun berganti, anak-anak SD ini beranjak dewasa. Tak ada perubahan, nasib mereka menjadi orang-orang serba kekurangan. Cita-cita waktu sekolah pun tiada, hanya menjalani hidup layaknya orang-orang biasa tanpa ada target. 

Keunikan para anak-anak SD ini menarik. Jika mau dipaparkan, kombinasi lugu dan bodoh. Entahlah, jadinya seperti apa. Yang jelas, kehidupan mereka penuh dengan keluhan tiada tara. Semasa SD sering di-bully kelompok lain. Hingga dipukuli menjadi makanan sehari-hari. 

Pun dengan inspektur dengan bawahannya. Keadaan di Belantik yang tenang menjadikan mereka hanya menatap papan tulis yang berisi daftar kriminal selama tahun tersebut. Tak ada yang berubah, ingin memecahkan telur dari Nol menjadi Satu pun sangat sulit. 

Hingga pada suatu saat, sebuah perayaan tahunan menjadi waktu paling diingat dalam sejarah. Ada rencana besar. Sebuah tindak kejahatan yang sangat luar biasa besarnya. Informasi ini terendus di Inspektur. Inspektur menjadi antusias, karena ini akan menjadi sejarah di Belantik. 

Siapa yang menjadi dalang kejahatan? Bagaimana dengan Inspektur? Pun dengan bagaimana para sepuluh sahabat tersebut melewati masa-masa dewasa? Sebuah pertanyaan menarik yang bisa dijawab kala membaca novel Orang-orang Biasa. 

Sebelum jauh mengulas novel ini dari sudut pandang saya. Berikut berbagai kutipan di novel Orang-orang Biasa. 

“Jika mereka miskin, mereka bersahaja; jika mereka tidak miskin, tetapi juga tidak kaya, mereka tidak ada – Orang-orang Biasa Halaman 5” 

“Dunia ini rusak gara-gara banyak bawahan yang suka melapor pada atasan asal atasan senang saja, Sersan! Bawahan macam itu adalah para penjilat! Kalau melaporkan apapun pada saya, apa adanya, Sersan! Jangan dikurang-kurangi, jangan ditambah-tambahi! - Orang-orang Biasa Halaman 48” 

“Kalau kita tertangkap, masa lalu tertangkap. Kalau seorang anak tidak sekolah, masa depan jadi musibah. Aku ikut! - Orang-orang Biasa Halaman 85” 
“Maaf, Kawan, uang korupsi, uang haram, sesen pun aku tak mau menyekolahkan anakku dengan uang ini - Orang-orang Biasa Halaman 224” 

***** 

Koleksi Pribadi Novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata
Koleksi Pribadi Novel Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata

Alur Cerita Novel Orang-orang Biasa 

Karya Andrea Hirata ini menurut saya berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Di novel Ayah ataupun Sirkus Pohon, Andrea Hirata bercerita dengan ritme yang kadang cepat, kadang melambat. Di novel ini cenderung lambat. Bagi yang sebagian orang mungkin sedikit membosankan hingga pertengahan halaman. 

Satu poin yang saya ingat. Penggunaan Bahasa lokal tidak banyak. Kalimat-kalimat sedikit mendayu ala Andrea Hirata kala menulis tentang percintaan di Novel Ayah pun tidak ada. Benar-benar minim sajak-sajak yang mendayu-dayu. 

Di novel ini menceritakan masa sekarang. Sehingga muncul kata-kata seperti Facebook, internet, bahkan di berbagai halaman menyebut Kupi Kuli. Warung kopi yang ada di Museum Kata milik Pak Cik Andrea Hirata. 

Ritme yang cukup santai ini berbanding terbalik dengan beberapa bab menjelang tamat. Berbagai cerita dibuat makin cepat, meski begitu tak banyak kejutan yang didapatkan. Memang ada satu kejutan besar, tak bisa saya ceritakan di sini, karena itu adalah inti dari cerita novel (versi saya). 

Pesan Tersirat pada Novel Orang-orang Biasa 

Andrea Hirata selalu menyisipkan pesan-pesan di tiap novelnya. Entah sebuah motivasi, kegigihan, pengorbanan, dan pastinya keluarga. Di novel ini sedikitnya ada empat poin yang bisa saya urai. 

Pertama; pesan yang paling kelihatan di novel ini adalah tentang kritikan pedas pada orang-orang di atas. Siapapun mereka, orang-orang yang tidak pernah melihat ke bawah. Bagaimana kondisi masyarakat di tempat yang lain masih berjuang dari kemiskinan. 

Kedua; sentilan bagi dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Banyak pendidikan yang harus ditebus dengan harga mahal. Banyak jurusan yang tidak bisa hanya mengandalkan kejeniusan, kepintaran, namun juga harus ada uang sebagai jaminan. 

Ketiga; pengorbanan orang tua dan kesetiaan kawan. Pada bab-bab tertentu diceritakan bagaimana orang tua ingin anaknya sukses. Beliau rela membanting tulang, memeras otak agar bisa menjadikan anaknya hidup lebih baik. Hal ini juga menyampaikan bahwa kawan sebenarnya adalah ketika mereka berusaha untuk berjuang bersama meski sama-sama dalam masa sulit. 

Keempat; tentang sebuah kejujuran dalam bekerja. Jauh di ujung negeri ini masih banyak orang-orang yang jujur, bertanggungjawab. Tidak tergoda materi meski hidup pas-pasan. Benar-benar mengabdi untuk negeri. Berbeda dengan cecunguk-cecunguk koruptor di kota-kota besar. 

Spoiler Novel Orang-orang Biasa 

Setelah kalian membaca novel Orang-orang Biasa ini, kalian nantinya pasti mangut-mangut kenapa Andrea Hirata menjadikan “Orang-orang Biasa” sebagai judul novel beliau di tahun 2019. Sebuah bocoran yang tak berfaedah! 

Kekurangan dari Novel Orang-orang Biasa 

Saya percaya, sebagus-bagusnya novel Andrea Hirata, pasti tidak sempurna. Ini yang membuat saya ingin mengulas kekurangannya menurut pandangan saya sendiri. Menceritakan kekurangan novel ini sebenarnya mengulik isi secara keseluruhan. Semoga tetap menarik bagi pembaca. 

Poin pertama; terlalu banyak tokoh yang diceritakan. Tiap tokoh yang dominan dijabarkan secara berkala. Namun, mengingat lebih dari sepuluh toko yang sering diceritakan tiap bab cukup berjuang ekstra bagi yang sedikit pelupa. 

Poin kedua; Andrea Hirata terkesan terburu-buru dalam menyelesaikan cerita pada bagian akhir. Tepatnya di bagian kejahatan. Tidak diceritakan dari awal bagaimana detailnya, hanya menceritakan pengamanan yang canggih, namun pada akhirnya bisa dibobol dengan cukup mudah. 

Poin ketiga; penangkapan kejahatan cukup mudah. Tak perlu bekerja ekstra, tidak sesuai dengan prestasi selama malang-melintang di kota-kota besar. Peralatan mencukupi namun ceroboh. Bahkan kecerobohan itu tidak diceritakan, hingga menyiratkan sedikit teka-teki, bagaimana bisa dengan mudah ditangkap di lokasi tersebut. 

***** 

Terlepas dari penilaian saya yang beragam di atas, saya yakin novel ini cukup bagus dibaca bagi pecinta karya Andrea Hirata. Meski, bagi saya novel ini menurutku kurang lebih baik daripada novel-novel sebelumnya. Ini hanya versi saya, karena selera tidak pernah bisa disamakan. Selamat Membaca Boi!

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.