Resensi Buku Laki-Laki dari Tidore Karya Alberthiene Endah

Buku Laki-Laki dari Tidore Karya Alberhiene Endah
Buku Laki-Laki dari Tidore Karya Alberhiene Endah

Empat buku sudah saya terima dari Gramedia. Sedari awal buku-buku ini tergeletak masih terbungkus plastik. Belum sempat meluangkan waktu membacanya. Hingga akhirnya di masa pandemic Covid-19, saya mempunyai banyak waktu untuk membaca buku. 

Satu demi satu buku saya tuntaskan. Buku ini saya ambil dan melepas plastik, membuang bungkus di tempat sampah. Baru mau membacanya, ada lagi kiriman empat buku yang saya beli dua hari yang lalu. Saya putuskan membaca buku ini terlebih dahulu. 

Halaman demi halaman saya buka. Pada awal buku, terdapat ‘prolog’ dengan judul ‘Kidung Gurabunga’. Lamat-lamat saya baca hingga tuntas. Tak terasa saya terus melanjutkan bacaan ke bab-bab selanjutnya hingga tandas. 

***** 

Judul: Laki-Laki dari Tidore 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 

No ISBN: 978-602-03-1243-9 

Tahun Terbit: 2015 

Halaman Buku: 243 

Genre: Kisah Nyata 


Diangkat dari Kisah Nyata Achmad Mahifa 

Negara Indonesia baru bernafas dari jajahan Belanda, kehidupan masyarakatnya sedang ingin meraih mimpi hidup dengan Makmur. Masa yang sulit akrena saat itu adalah fase transisi. Sebuah perjuangan panjang untuk meraih cita-cita tersebut. 

Di Indonesia bagian Timur, gejolak itu juga terasa. Jauh di pelosok tempat bernama Gurabunga, sebuah kampung yang jauh dari keramaian, harmoni bersanding dengan alam, ikut merasakan semangat hidup lebih baik. 

Anak kecil bernama Ahmad mempunyai asa ingin menyibak hutan. Menjejakkan kaki jauh dari tempat asalnya untuk meraih cita-cita yang sudah disematkan dalam hati. Tentu semuanya takm lepas dari dorongan keluarga dan orang-orang terdekat. 

Perjalanan Ahmad sangat panjang dengan banyak cerita yang luar biasa dari anak dusun tersebut. Hidup sejak kecil penuh sahaja, Achmad berusaha meraih mimpinya dengan bersekolah di bangunan seadanya. Tanpa fasilitas yang mumpuni, jauh dari kata baik. 

Semangat Ahmad tak luntur. Banyak kisah pilu semasa kecil di sekolah, tapi niatnya sudah bulat. Perjalanan terjal juga dirasakan ketika memutuskan kuliah di univeristas. Tahun pertama lancar, tapi cobaan kembali datang untuk membentuk mental Achmad. Di sana pula sebuah mimpi bisa terealisasikan. 

Perjalanan panjang pindah kampus tiga kali, mengabdi di salah satu kecamatan yang terkurung di tengah hutan selama delapan tahun, mencoba membangkitkan semangat penduduk yang layu tanpa merasa ada masa depan cerah, terancam nyawanya dengan berondongan peluru, hampir kehilangan keluarga yang diempas ombak Samudra Pasifik, banyak lagi momen-momen yang tak terlupakan. 

Ahmad membuktikan semua perjuangannya tidak sia-sia. Setelah masa sulit saat Pendidikan dengan cerita yang berliku, tahun 2005 beliau menjadi Walikota Tidore Kepulauan. Tahun 2010, kembali beliau dipercaya menjadi Walikota untuk kedua kalinya. Sebuah perjalanan panjang dan menjadi motivasi bagi semua orang di manapun berada. 

“Nak, seorang pemimpin yang baik pasti akan senang mengunjungi rakyatnya. Tapi tentu ia tak akan mungkin bisa mengunjungi semua daerah yang ingin ia pijak – Halaman 36.” 
“Nak, aku tahu betapa sedihnya dirimu. Kalimatku tidak akan pernah membuatmu terhibur, aku tahu. Tapi, jangan pernah menghunus dirimu dengan kesedihan berlarut-larut – Halaman 124.”  
“Pemimpin yang modern akan memberi pengaruh yang baik. Dusun-dusun akan berkembang. Jalan-jalan, klinik kesehatan, rumah ibadah, dan sekolah akan dibangun. Komunikasi sang pemimpin dengan pemerintah daerah akan melancarkan proses itu – Halaman 157.”  
“Aku adalah anak yang pergi dan akhirnya kembali. Tapi tak akan kuanggap ini sebagai pemberhentian. Tidore akan kuajak berjalan tanpa harus merasa pergi – halaman 236.” 

***** 
Segelas kopi dan buku
Segelas kopi dan buku

Pendapat Saya tentang Buku Laki-Laki dari Tidore 

Selama empat hari saya meluangkan waktu membacanya, mengikuti alur-alur cerita dengan imajinasi yang ikut membayangkan suatu tempat yang belum pernah saya dengar. Bahkan sempat di sela-sela waktu saya membuka perambah sambil mengetikkan kata kunci “Gurabunga, Goto, hingga Demta.” 

Narasi indah dan runtut ditulis Endah selaku penulis, pun dengan kisah yang menginspirasi dari Ahmad Mahifa. Saya menjadi sedikit tahu tentang Tidore, bagaimana daerah ini sungguh jaya dengan hasil bumi dan rempahnya. Pun dengan adatnya yang beragam. 

Buku ini membuka mata kita tentang Tidore, orang-orangnya, keindahan alamnya (gunung dan laut), hingga perjuangan mereka untuk menjadi lebih baik. Dari novel ini, Ahmad berharap tiap generasi baru di Tidore tak mudah menyerah untuk meraih mimpi yang sudah disematkan sejak kecil. 

Seperti yang tertulis di novel ini. Harapannya setiap orang di manapun berada untuk menyikapi apapun yang ada di tempat kita dengan baik. Mengemban tugas dengan amanah, berkomunikasi dengan masyarakat menggunakan cinta. Serta berbaur dengan masyakarat tanpa sekat. 

Pastinya, semua ini tak ada artinya tanpa doa orangtua, keluarga, dan semesta yang dikabulkah Tuhan YME. Percaya atau tidak, saya sempat ikut terisak kala membaca perjuangan Ahmad kala mengabdi di Demta, ataupun di Jakarta. Hidup memang penuh perjuangan. 

Saya pribadi suka dengan buku ini. Seperti yang saya bilang di awal, buku ini dituturkan baik oleh penulisnya, kisah-kisah yang heroik serta menyentuh dari tokohnya, dan buku ini membuka kita tentang perjuangan di manapun kita berada.

Posting Komentar

0 Komentar