Review Buku Dokter di Medan Lara: Biografi Prof. Idrus Andi Paturusi

Buku Dokter di Medan Lara
Buku Dokter di Medan Lara

Untuk kedua kalinya saya mendapatkan pesan email dari Bang Sili Suli. Mantan wartawan Harian Ujungpandang Ekspress menginformasikan jika sedang menyusun buku kedua berjudul “Dokter di Medan Lara”, sebuah biografi Prof. Idrus Andi Patusuri. 

Prof Idrus sendiri merupakan mantan Dekan Fakultas Kedokteran serta Mantan Rektor UNHAS. Tentu cerita pengalaman beliau dalam misi kemanusiaan menarik untuk dibaca. Menariknya, saya merupakan orang pertama yang menerima buku tercetak ini sebelum penulis dan tokoh yang ada di cerita ini memilikinya. 

Selain itu, mungkin Bang Sili Suli ataupun Prof Idrus belum ketahui. Buku ini telah dibaca seorang lelali berdarah Bugis – Mandar yang sampai saat ini belum pernah menginjakkan kaki ke tanah leluhurnya. Saya nikmati dulu bacaan yang tebal ini sembari ditemani kopi dan harapan untuk bisa ke Sulawesi. 

Ketika saya menjadikan buku ini sebagai WA Story, sebuah pesan masuk. Beliau berujar jika Prof. Idrus adalah dosennya sewaktu kawan kuliah di S1 Kedokteran UNHAS. Kawan yang saya kenal saat dia kuliah S2 di Kedokteran Tropis UGM ini berasal dari NTT kini mengajar di Poltekes Kemenkes. 

***** 

Judul: Dokter di Medan Lara 

Karya: Sili Suli & Hurri Hasan 

Penerbit: Arti Bumi Intaran 

ISBN: 978-602-5963-77-3 

Tahun Terbit: Maret 2020 

Kategori: Biografi 


Misi Kemanusiaan di Atas Segalanya 

Buku ini adalah biografi Prof. Idrus. Tiap bab menceritakan berbagai fase. Mulai dari beliau masa kecil hingga sekarang. Kisah awal dari pindah-pindah sekolah dasar, kenakalan remaja, serta sedikit membahas keluarga. 

Seperti judul buku, biografi Prof. Idrus ini lebih banyak menceritakan pengalaman beliau kala menyambangi tempat tertentu dengan tujuan kemanusiaan. Idrus A. Paturusi tak pernah jauh dari misi kemanusiaan. 

Satu demi satu kisah tertutur dengan baik. Dimulai dari tsunami di Ende tahun 1992 hingga berakhir di tempat yang hanya sepelemparan batu dari rumahnya. Kebakaran hutan di Gunung Lompobattang oktober 2019. Rentang waktu lebih dari dua dekade bercengkerama dengan misi yang sama. 

Ada banyak kisah yang mungkin tidak dituliskan di buku ini. Pengalaman-pengalaman Prof. Idrus di misi kemanusiaan banyak makna. Sebagai dokter, beliau tergugah untuk melakukan misi tersebut. Pikirannya cepat, rencananya kilat, keputusannya tepat, dan semuanya sudah diperhitungkan dengan baik. 

Pahit, getir, duka, ketakutan, hingga merasa maut sangat dekat dengan dirinya sudah dialami. Sebagai sosok medis yang bertugas di zona bencana dan zona merah (area konflik) mempunyai kesan yang berbeda. 

Di saat ada bencana, beliau sigap membuka posko serta meyakinkan pengungsi untuk tinggal di dalam rumah sakit. Ini tercatat ketika beliau beberapa kali memberi contoh dengan tidur di dalam ruangan rumah sakit kala semua pasien memilih tidur di halaman dengan asalan takut gempa susulan. 

Malaikat maut terkadang dirasa cukup dekat dengan beliau. Hal ini dituturkan kala kisah-kisah beliau saat mengemban misi kemanusiaan di daerah konflik. Uji nyali di Ambon, berbaur dengan pengungsi Timor-Timur, bahkan mendapatkan todongan senjata di Ternate. 

Kisah tak kalah menegangkan saat beliau bertugas di perbatasan Pakistan – Afganistan. Atau kala beliau mengemban misi yang sama di Iran. Sebuah pengalaman berharga bagi beliau pribadi sekaligus membanggakan untuk Indonesia. 

Dikenal sebagai sosok yang hidup di lingkaran misi kemanusiaan sebagai tim medis, Prof. Idrus tak kalah mentereng prestasinya di akademik. Kisah beliau menjadi dokter yang penuh kenangan, hingga pada akhirnya menjabat di FK UNHAS sebagai Dekan. 

Gebrakan-gebrakan beliau mentereng. Ini juga yang pada akhirnya beliau menjadi orang nomor satu di UNHAS. Jenjang Dekan menanjak menjadi Rektor. Lagi-lagi, beliau membuat wajah UNHAS makin terias dengan baik. 

Pernah mendengar suatu universitas menurunkan biaya semester? Cerita itu tidak hanya dalam khayalan. Prof. Idrus pernah melakukan “keputusan gila” tersebut. Banyak ide beliau yang pada akhirnya diterima pemerintah dengan segala inovasinya, khususnya untuk daerah Timur Indonesia. 

Ada banyak kisah beliau yang dituturkan. Semua kisah mempunyai makna mendalam, inspiratif, serta menyentuh. Ada kutipan yang menurut saya harus dicantumkan saat menulis ulasan buku ini di blog. 

“Ada kebahagiaan tersendiri saat kita bisa ikut membantu mereka yang sedang kesulitan dan membutuhkan pertolongan di daerah bencana. Kebahagiaan itu tidak bisa dinilai dengan uang – halaman 178.” 

***** 
Membaca buku Dokter di Medan Lara. Biografi tentang Prof. Idrus A. Paturusi
Membaca buku Dokter di Medan Lara. Biografi tentang Prof. Idrus A. Paturusi

Pendapat Saya tentang Buku Dokter di Medan Lara 

Saya sudah terangkan di awal alenia, buku ini saya dapatkan dari penulisnya. Bang Sili Suli menerangkan jika biografi ini dicetak 1000 eksemplar serta tidak diperjual-belikan. Tentu kalian tahu bagaimana bahagianya saya mendapatkan buku terbatas ini. 

Sesuai dengan judulnya, buku ini bercerita tentang pengalaman-pengalaman heroik Prof. Idrus saat bertugas menjadi tim medis di tiap bencana ataupun daerah konflik. Saya ikut berdebar kala membaca kisah beliau di ujung maut. 

Bagi saya pribadi, buku ini bukan sekadar sebagai kenangan Prof. Idrus, tapi menjadi buku yang memantik para pembaca untuk mendedikasikan dirinya demi kemanusiaan. Keteguhan hati serta keyakinan bahwa semua niat baik ada jalannya. 

Kisah-kisah beliau menjadi bukti bahwa semua orang bisa menolong siapapun yang sedang kesusahan dengan keahliannya masing-masing. Membaca buku ini di kala pandemi covid-19 membuat saya menitikkan airmata. Saya membayangkan bagaimana tim medis berjuang tanpa henti. 

Ada beberapa yang bisa saya ambil dari kisah di buku ini. Tentang bakti anak, tentang persahabatan, tentang kemanusiaan, serta keberanian. Prof. Idrus sosok yang lengkap; tak hanya sebagai dokter, sebagai kolega, sebagai kawan, sebagai rektor, ataupun sebagai anak yang patuh dengan orangtuanya. 

Selain itu, di sini juga beliau mengisahkan bagaimana seorang Jusuf Kalla mempunyai peran penting di setiap kegiatan beliau saat misi kemanusiaan. Tentu juga dukungan penuh keluarga dan seluruh kolega yang mempunyai satu visi. 

Buku ini ditulis dengan baik Sili Suli dan Hurri Hasan. Tiap tulisan yang dikisahkan lengkap dengan foto dokumentasi serta catatan lengkap narasumber. Tiap kisah dirangkai dari berbagai hasil wawancara orang-orang yang terlibat langsung dengan Prof. Idrus saat di lokasi. 

Meski begitu ada kesalahan minor terkait penulisan. Saya hanya menemukan tiga kesalahan kata di buku setebal 354 halaman. Adapun kesalahan tersebut “halaman – hamam (107), membawa – mebawa (161), serta mendapat – memdapat (165).” 

Bagi saya, buku ini sangat menginspirasi. Kisah-kisah beliau layak dikabarkan kepada siapapun yang mengabdi di penjuru Indonesia khususnya sebagai tim medis. Terima kasih Prof atas dedikasinya di dunia medis.

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Balasan
    1. Terima kasih pak. Terima kasih berkunjung ke blog ini pak.

      Hapus
  2. keren sekali reviewnya mas Nasirullah. Maturnuwun Mas. Jaga kesehatan dan sukses selalu. Semoga badai corona cepat berlalu dan Indonesia tersenyum kembali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bang Sili atas bukunya.
      Semoga pandemi lekas berlalu dan terus berkarya bang

      Hapus