Mempromosikan Produk Lokal Melalui Pameran UKM Yogyakarta

Panggung Pameran UKM di Alun-alun Sewandanan Pakualaman
Panggung Pameran UKM di Alun-alun Sewandanan Pakualaman

Di Indonesia, masyarakatnya mempunyai banyak produk yang dihasilkan dari UKM. Mereka bisa membuat produk tertentu dalam bentuk kuliner, wasta, cinderamata, hingga berbagai oleh-oleh dalam kemasan. 

Berbagai hasil produk para UKM sudah seharusnya dikenalkan kepada masyakarat umum. Sehingga setiap orang dapat mencintai produk dalam negeri. Khususnya produk-produk yang dibuat para kelompok ataupun komunitas. 

Hal ini pula yang ditangkap Dinas Koperasi dan UKM DIY yang bersinergi dengan PLUT Jogja. Tiap kelompok wirausaha masyarakat di DIY diberi wadah khusus dalam mempromosikan hasil produknya dalam tajuk “UKM Great Sale” yang diselenggarakan tanggal 28-29 Februari 2020. 

Gelaran ini berlokasi di Alun-alun Sewandanan Pakualaman. Lebih dari 50 stand saling memajang berbagai jenis hasil produknya. Tiap pengunjung bisa berkeliling melihat berbagai produk yang dipamerkan. Bahkan pengunjung bisa membelinya jika memang tertarik. 

Saya pun tidak mau ketinggalan. Beberapa kali gelaran UKM seperti ini saya manfaatkan membeli olahan camilan ataupun minuman. Di sini, saya berkeliling tiap stand, melirik produk yang ingin dibeli, hingga berinteraksi dengan penjualnya. 

Menyesap Kopi Manual Seduh di Stand Tropical Coffee 

Datang pagi membuat saya ingin menikmati berbagai kuliner yang disajikan. Tujuan saya tentu mencari berbagai kuliner yang menarik perhatian. Saya tahu, pameran seperti ini menjadi surga bagi orang yang suka produk lokal. 

Kaki saya terhenti di deretan stand kopi. Ada tiga kopi yang berjejeran di satu deret. Stand pertama memajang kopi dalam kemasan, stand tengah memajang biji kopi dalam stoples. Sementara sisi satunya es kopi susu di dalam botol. 

Sejenak saya tertegun. Pandangan saya tidak lepas dari Kopi Merapi dan Kopi Gayo. Daftar harga yang tertera cukup murah. Hanya 10.000 rupiah untuk manual seduh. Saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan mengopi di sini. 
Stand kopi yang menarik perhatian
Stand kopi yang menarik perhatian

Saya duduk di stand kopi yang tengah. Bapak-bapak menyapa sembari mengenalkan kopi yang dipajang. Dari informasi yang beliau berikan, semua kopi ini prosesnya natural. Di sini beliau antusias bercerita tentang kopi. 

Kami berbincang santai. Pak Sulis dari Tropical Café Yogyakarta masih bertutur. Kami membahas dunia kopi. Bahkan saya tertarik terkait biji kopi Merapi yang disediakan. Saya pernah menyesap beberapa kopi Merapi, kali ini pun masih penasaran dengan rasanya. 

Pak Sulis membuatkan minuman dengan metode V60. Tidak perlu waktu lama, minuman ini langsung saya sesap hingga tandas. Setelah habis, saya baru ingat jika belum memotretnya. Pak Sulis dan petugas stand yang lainnya tertawa. 

“Saking enaknya sampai lupa saya potret, pak,” Ujarku tertawa. 

Saya menunggu pesanan orang lain untuk mengabadikannya. Pagi ini sudah da tiga pengunjung yang memesan kopi. Mulai dari Cappuccino, V60, dan yang lainnya. Kopi-kopi yang disediakan cukup beragam dan menarik untuk dicicipi. 
Menyesap kopi sambil berbincang santai
Menyesap kopi sambil berbincang santai

Untuk hari-hari biasa, Tropical Café Yogyakarta buka di Jalan Kaliurang KM. 8. Di sana kalian bisa menyesap kopi ataupun sekadar bersantai. Untuk info lengkapnya bisa membuka instagram @tropical_cafe_yk 

Pak Sulis sendiri sudah lama bergelut dunia kopi. Beliau berujar jika mengurusi kopi sejak tahun 2008. Ini artinya beliau memang sudah berpengalaman dalam dunia kopi. Terlebih kopi sekarang meningkat drastis peminatnya di Jogja. 

Mengemil Keripik Singkong Mbah Gayeng 

Tidak cukup dengan menyesap kopi. Saya kembali berkeliling menyusuri tiap stand. Melewati berbagai jualan makanan, minuman, hingga kain-kain yang menarik. Mata saya tertuju pada camilan Keripik Singkong. 

“Bisa dicoba keripiknya, mas,” Perempuan di balik stand membuyarkan konsentrasi saya. 

“Pedas tidak, mbak?” Tanya saya balik. 

“Pedas dan ada rasa rempahnya.” 

Kemasan Keripik Singkong berderet di meja kecil. Tidak ketinggalan lambang dalam kemasan bertuliskan “Keripik Singkong Mbah Gayeng,”. 
Stand camilan Keripik Singkong
Stand camilan Keripik Singkong

Sampel keripik yang disodorkan saya ambil sedikit dan menyicipnya. Selain keripik singkong, stand beliau juga ada olahan yang lainnya. Konon adalah milih teman-temannya yang dititipkan agar dikenal para pengunjung. 

Benar juga yang dibilang Bu Rita selaku pemiliknya. Rasa keripik singkong balado ini lumayan pedas. Pun dengan ras rempah yang tebal. Saya tertarik membelinya untuk camilan kala menonton bola. 

Satu bungkus camilan keripik singkong sudah pindah tempat. Saya sudah menyiapkan totebag sendiri dari rumah. Sehingga tidak memerlukan lagi pembungkus plastik. Sembari menyicip keripik singkong 

Bu Rita bersama suaminya Pak Endarto memproduksi sendiri keripik singkong ini di sekitaran Kalasan. Bahkan kalian bisa memesan keripik ini melalui pesan WA ataupun melalui Instagram. Untuk Instagramnya di @rhieca_inka. 
Olahan Keripik Singkong  Mbah Gayeng
Olahan Keripik Singkong  Mbah Gayeng

Usaha membuat keripik singkong ini sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Di tempat beliau, dalam sebulan biasanya menghabiskan 150kg singkong untuk bahan dasar. Menjelang lebaran, omset pesanan meningkat drastis. 

Menyantap Nasi Berkat Wanti Bagoes Catering 

Baru keliling beberapa stand, saya tertarik dengan nasi yang dibungkus menggunakan daun jati. Kemasan ini mengingatkan saya di waktu kecil kala sedang ada yang hajatan. Biasanya warga kampung memanfaatkan besek sebagai tempat nasi. 

Benar adanya, ternyata yang di dalam bungkus daun jati adalah nasi berkat. Nasi dengan lauk ayam kampung, serta beberapa sayuran di dalamnya. Bungkus daun jati membuat selera makan makin besar. 
Stand Kuliner dari Semin, Gunungkidul
Stand Kuliner dari Semin, Gunungkidul

“Berapa satu bungkus, bu?” 

“5.000 rupiah, mas,” Jawab ibu-ibu sambil berdiri. 

Beliau membukakan bungkusan nasi. Saya rindu kuliner seperti ini. Tidak butuh waktu lama langsung membelinya. Ternyata ibu ini hanya membantu pemilik stand. Bu Wanti yang memiliki stand baru datang dari stand sejawatnya. 

Kami kembali berbincang, saya melihat tidak hanya nasi berkat. Di sini juga tersedia Ingkung Panggang, Gudeg, dan yang lainnya. Tetap saja saya tergoda dengan nasi berkat. Bau nasi terbungkus daun menjadi lebih harum. 
Nasi berkat dibungkus menggunakan daun jati
Nasi berkat dibungkus menggunakan daun jati

Dari informasi yang saya dapatkan, stand ini berasal dari Semin Gunungkidul. Bu Wanti Bagoes memang sudah lima tahun mempunyai usaha catering. Beliau sering mendapatkan pesanan dari Wonosari dan sekitarnya. 

***** 

Menjelang siang, pengunjung pameran bertambah. Sesekali saya melihat para pengunjung yang memotret berbagai produk. Saya sendiri masih duduk santai sembari mengemil keripik singkong. Nantinya, nasi berkat yang tadi saya beli untuk jatah makan siang. 

Di panggung, pembawa acara sibuk berinteraksi dengan perwakilan stand. Mulai yang jualan aneka aksesoris dari kayu, kaus, hingga Bu Rita yang memajang olahan keripik singkong pun turut bercerita di atas panggung. 

Stand pakaian juga menarik perhatian. Saya memperhatian dua simbah yang berbincang sembari memegang kebaya berwarna merah muda. Beliau saling bertukar pendapat. Sesekali menempelkan kebaya tersebut untuk mengukur apakah sesuai dengan badan beliau. 
Simbah-simbah memilih kebaya di stand pakaian
Simbah-simbah memilih kebaya di stand pakaian

Pendapat Peserta Pameran dengan Event UKM Great Sale 

Setiap kegiatan pameran mempunyai banyak manfaat. Saya pribadi menyatakan jika pameran seperti ini menarik dan perlu dikembangkan lagi. Bisa jadi pihak-pihak yang terkait bisa berinovasi agar gelarannya lebih ramai. 

Dari kegiatan pameran, saya menjadi tahu bagaimana potensi tiap daerah itu beragam. Saya ataupun pengunjung bisa menjadi semakin mencintai produk lokal. Karena produk lokal pada dasarnya makin bagus kualitasnya. 

Selain itu, jika tidak kita sendiri yang mencintai produk lokal, siapa lagi. Dari diri sendiri, kita berharap mengenalkan kepada orang lain. Dan orang-orang tersebut menyebarkan ke lingkarannya sehingga meluas. 

“Saya di sini mengenalkan kopi. Sehingga orang-orang yang berkunjung bisa tahu bagaimana mengopi dengan baik.” 

Begitulah kata Pak Sulis. Beliau tidak memikirkan seberapa banyak kopi yang terjual. Tapi beliau sudah bangga jika ada orang yang bertanya-tanya tentang kopi nusantara. Karena dari kenal, bisa jadi mereka tertarik untuk menyicipnya. 

Pun dengan Bu Rita, beliau ikut event ini dengan harapan mengenalkan keripiknya. Dari event ini mereka mendapatkan kolega yang ke depannya bisa memesan keripik di tempatnya. Adanya pameran ini untuk menggaet calon kolega di waktu mendatang. 

Berbeda dengan yang lainnya, Bu Wanti sendiri memberi masukan agar ke depannya event ini bisa ramai. Beliau berharap dinas terkait dapat merangkul mahasiswa atau wisatawan untuk turut datang, sehingga tiap stand menjadi lebih ramai pembeli. 
Salah satu sudut stand kala pagi hari
Salah satu sudut stand kala pagi hari

***** 

Tidak terasa waktu menjelang siang. Saya harus melanjutkan bersepeda pulang. Menyenangkan rasanya dapat mengunjungi pameran UKM. Harapannya dengan adanya pameran ini dapat mengenalkan produk andalan daerah tertentu lebih luas. 

Ini bukan tugas Dinas terkait saja. Tapi tugas bersama untuk saling membahu agar produk-produk lokal kita makin dicintai. Seperti yang saya bilang dari awal. Jika bukan kita yang mencintai, siapa lagi. Tabik. 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Pameran produk lokal UKM "UKM Great Sale" 28-29 Februari 2020 di Alun-alun Sewandanan Pakualaman.

Posting Komentar

0 Komentar