Menikmati Malam Hari di Resto Tani Jiwo Hostel Dieng

Menyesap minuman di Tani Jiwo Hostel
Pengunjung Dieng Culture Festival makin membludak. Mereka berjalan menuju panggung utama. Saya bersama kawan malah menjauh. Kami menyibak keramaian untuk menepi. Tidak sedikitpun ingin masuk ke panggung utama. Meski siang tadi ada tawaran akses masuk dari panitia. 

“Teman-teman di Tani Jiwo. Kita kumpul di sana saja,” Terang kawan. 

Bergegas kami menuju jalan besar. Rombongan demi rombongan makin banyak. di pertigaan Tani Jiwo Resto padat. Bahkan jalannya sengaja diberi tali pembatas. Cukup lama menunggu kendaraan yang berlalu-lalang. Selepas itu saya menyeberang. 

Tani Jiwo Hostel ramai pengunjung, penginapan yang berkonsep hostel ini kebanjiran tamu wisatawan yang ingin menyaksikan Dieng Culture Festival. Silih berganti tamu hotel keluar-masuk. Dua orang bertugas menjaga di pintu kaca, memastikan mereka yang tidak berkepentingan untuk tidak masuk hostel. 

Dari pesan WA, tiga kawan sudah berada di restoran Tani Jowo Hostel yang berlokasi di lantai tiga. Kawan mendekat ke petugas yang menjaga pintu, kami mengutarakan jika ingin menemui kawan yang lainnya di atas sembari menyebutkan salah satu panitia yang dipercaya. 

“Silakan masuk mas. Naik tangga ini,” Ujar mas-mas yang berjaga. 

Saya baru kali pertama ke Tani Jiwo Hostel, entah penjagaan ini memang tiap waktu ada atau hanya ketika tamu membludak seperti ini. Anak tangga berada di ujung, saya meniti tangga sampai di lantai tiga. Di sini masih lumayan sepi. Pengunjung fokus melihat performa di panggung utama. 
Ruangan terbuka di resto Tani Jiwo Hostel Dieng
Ruangan terbuka di resto Tani Jiwo Hostel Dieng
Restoran ini cukup menarik. Dibuka sekitar tiga bulan yang lalu, Resto Tani Jiwo di Wonosobo konsepnya menarik. Di bagian luar terdapat banyak kursi kayu serta ayunan yang terbuat dari besi. Tempat ini menghadap ke jalan besar. 

Bagi yang ingin menikmati malam di Dieng sembari menyeduh kopi ataupun minuman hangat yang lainnya. Saya rasa di Tani Jiwo ini bisa menjadi pilihan para pengunjung Dieng. Pastinya tempatnya cukup nyaman dan tidak riuh. 

Berbeda halnya dengan ruangan di dalam. Di dalam lebih didominasi dengan sofa. Ada banyak tempat duduk yang bisa dipakai untuk rombongan lebih dari enam orang. Tatanan kursi di luar jauh lebih simpel, berbeda dengan di luar yang lebih minimalis dan menarik. 

Saya sempat berbincang dengan salah satu orang resto. Beliau mengatakan jika Resto Tani Jiwo ini memang masih baru. Mereka masih meraba-raba konsep apa yang bisa digunakan agar dapat menggaet pengunjung untuk makan atau sekadar mengopi. 
Sofa-sofa di dalam ruangan rsto Tani Jiwo Hostel Dieng
Sofa-sofa di dalam ruangan rsto Tani Jiwo Hostel Dieng
“Intinya di tiga bulan pertama ini kami masih melihat respon pengunjung, mas.” 

Sudut demi sudut saya jelajahi. Saat itu juga saya meminta izin untuk memotret ruangan resto. Hanya saja niatnya kali ini sekadar ingin mengulasnya di Local Guide. Memang, jika dilihat masih butuh inovasi agar restoran ini menarik minat kawula muda. 

Tiga kawan yang lain sudah duduk di sofa. Malam ini kami berlima ngobrol santai sembari menahan hawa dingin Dieng. Salah satu panitia mengabarkan jika kami dibebaskan pesan makanan atau minuman. Nanti pihak panitia yang membayar. 

Tidak ada satupun yang memesan makan. Kami sengaja memesan minuman dan kudapan. Minuman yang paling direkomendasikan pihak resto adalah Teh Tarik. Salah satu kawan yang cewek memesan minuman tersebut, lainnya memesan wedang. 
Daftar menu dan harga di resto Tani Jiwo Hostel Dieng
Daftar menu dan harga di resto Tani Jiwo Hostel Dieng
Berada di dataran tinggi Dieng, minuman hangat ala wedang jahe menjadi minuman yang paling banyak dicari. Saya pribadi malah memesan kopi. Di resto ini, menu yang disjikan cukup beragam. Kalian bisa menjadikan resto di Tani Jiwo Hostel sebagai tempat makan malam. 

Kisaran harganya pun menurutku sesuai. Selain makanan berat, di sini juga tersedia kudapan. Dari daftar menu tersebut, kami malah memilih kudapan Cireng. Entahlah, mungkin karena kami sudah makan. Jadi berkumpul di sini yang penting minum dan bersantai. 

Di daftar menu Resto Tani Jiwo Hostel tidak dicantumkan minuman kopi. Sebenarnya mereka menyediakan kopi. Malam ini seduhan kopi ada di lantai satu. Ketika sudah siap disajikan, mereka mengantarkan sendiri ke meja kita. 

“Saya kopi manual seduh saja, mas.” 

Sedari siang sudah banyak kopi yang saya minum. Sembari mencari konten, saya menyeduh kopi seduh manual beberapa kali. Pun dengan minuman kemasan yang manis dari salah satu stand kopi dari Jogja. Tetap saja malam ini butuh kopi lagi.
Minuman di Tani Jiwo Hostel Dieng
Minuman di Tani Jiwo Hostel Dieng
Satu persatu minuman sudah datang. Kami melanjutkan perbincangan dengan kawan-kawan dari Wobosobo. Obrolan kami seputaran konten blog, foto, dan parisiswata. Tak terasa hingga larut, bahkan sampai para pengunjung Dieng Culture Festival mulai menyalakan lampion. 

Malam ini, ketika para pengunjung larut keriuhan malam DCF 2019, kami malah asyik menepi di restoran Tani Jiwo Hostel. Menyesap minuman hangat, menikmati kudapan, serta merekatkan jaket agar hawa dingin tidak merasuk lebih dingin. *Resto Tani Jiwo Hostel Dieng; Sabtu, 03 Agustus 2019.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.