Sejumput Cerita Kala Bertandang di FKY 2019

Keramaian pengunjung di FKY 2019
Di salah satu joglo yang bertuliskan VIP, saya membantu kawan untuk menyiapkan proyektor dan layar. Sebentar lagi ada diskusi santai terkait pembuatan video Instagram. Agenda rutin ini diadakan Komunitas Nyetrit Bareng yang berkolaborasi dengan Gudang Digital. 

Selama ada pagelaran Festival Kebudayaan Yogyakarta, saya hanya tiga kali hadir. Semuanya dibeda tempat. Pertama, waktu di Pasar Ngasem; kedua, di Taman Kuliner Condongcatur, dan yang ketiga adalah sekarang di Kampung Mataraman, Sewon. 

Selama itu pula, saya jarang membawa kamera. Lebih banyak menikmati keramaian dengan bersantai. Bahkan terkadang hanya duduk di selasar sembari menatap pengunjung yang berlalu-lalang. Tidak tebersit ingin mengambil konten untuk blog. 

Tahun 2019 ini, gelaran FKY dimulai sejak tanggal 4-21 Juli 2019. Lokasinya tersebar di beberapa tempat. Selama di sini, saya lebih banyak menghabiskan waktu di teras jogjo. Menatap orang-orang yang berjalan sembari memegang kuliner. 

Ada dua jalan untuk masuk. Saya sendiri melewati jalur Ringroad. Selama duduk, banyak panitia yang mengenakan kaus hitam dan menggunakan nametag. Sesekali mereka berkomunikasi menggunakan Handy Talky.

Anehnya, meski saya membawa kamera, sedari tadi belum sedikitpun tergerak untuk memotret. Aneh rasanya. Biasanya saya banyak memotret dan mencari bahan blog. Percayalah, selama di sini sejak sore hingga magrib, saya hanya memotret 4 kali jepretan. 
Berbagai kuliner yang bisa dinikmati kala gelaran FKY
Berbagai kuliner yang bisa dinikmati kala gelaran FKY
Suara pelantang saling bersahutan. Panggung besar di depan pintu dekat jalan raya menampilkan perfom tarian. Layar besar terpasang di dekat jalur jalan kaki. Tiap stand mulai ramai pengunjung. Makin sore, suasana makin padat. 

Saya menyusuri sepanjang jalur yang dipenuhi stand kuliner. Mulai dari kuliner tradisional hingga kekinian. Paling banyak adalah penjual sosis, sate, dan sebagainya. Atau makanan ala-ala Korea. Para penjual mengenakan pakaian tradisional untuk menarik perhatian. 

Asap mengepul. Bau sate, sosis, dan yang lainnya menyeruak. Tidak ada stand yang sepi, semuanya dikerumuni pengunjung. Mungkin selain akhir pekan, faktor ini hari terakhir buka juga menjadi alasan. 

Pengunjung tidak datang sendirian. Ada yang bersama keluarga, teman sejawat, hingga pasangan. Tidak jarang saya melihat sepasang muda-mudi menikmati kuliner semacam yang tersaji. Sepertinya, FKY yang di Kampung Mataraman sekarang malah identik dengan pasar kuliner.

Saya terus menyibak keramaian FKY. Kamera di tanga tidak banyak bekerja. Sesekali mengambil video. Mungkin masih terpengaruh workshop yang saya ikuti tadi, ketika narasumber menampilkan beberapa video Instagram ciamik. Saya ingin mencoba membuat seperti itu, meski saya tahu kualitas hasilnya nanti berbeda jauh. 

Satu stand di depan ramai antrean. Merasa penasaran, saya mendekat. Ternyata di sana tempat penukaran uang. Meski ini sudah seperti pasar-pasar yang ramai tiap mingguan, penukaran uangnya ini menggunakan uang kuno. 
Koin uang Ketip menjadi alat pembayaran di FKY 2019
Koin uang Ketip menjadi alat pembayaran di FKY 2019
Layaknya uang koin pada zaman dulu, koin dengan berlubang bagian tengah bertuliskan 10 Kethip. Zaman dahulu, sebelum ada kata Rupiah, kita sudah familiar dengan uang koin dengan mana berbeda-beda. Ada Bil, Sen, Benggol, Kelip, Ketip, Perak, Ringgit, hingga Rupiah.

Dua perempuan mengambil uang dari dompet, lantas menukarkan pada petugas yang berjaga. Saya tidak tahu pasti aturannya terkait nominal. Seingat saya, dia mendapatkan tiga keping. Saya meminta untuk menunjukkan, lantas memotretnya.

Dua pintu gerbang masuk FKY cukup meriah. Pintu yang dari jalan raya ditutup. Untuk sesaat, para pengunjung dilewatkan pintu dari selatan. Sekumpulan anak-anak ramai berjalan. Wajah mereka sudah dirias dan mengenakan kostum tarian. Kemungkinan dia akan perfom menjelang senja. 

Tidak lama dari tempat saya berdiri, suara pelantang menginformasikan ada penari yang perfom. Di bawah pohon rindang yang atasnya dihiasi lampu temaram, saya mencoba mencari tempat perfom mereka. Di dekat saya, anak-anak yang tadi dirias berkumpul. 

Suara pelantang berubah menjadi musik gamelan. Pengunjung merangsek berdiri di dekat kolam kecil. Mereka mengeluarkan gawai, merekam sesuatu. Dari tempat saya berdiri yang terlihat hanya punggung-punggung pengunjung. 

Secepatnya saya menuju ujung kolam, di sana jauh lebih lengang. Ternyata perfom para penari tidak di panggung. Mereka silih berganti menari di atas jembatan yang terbuat dari bambu. Silih berganti personilnya saling melengkapi. Mereka adalah anak-anak yang berada di dekat saya sedari tadi. 
Penari perfom di acara FKY 2019
Penari perfom di acara FKY 2019
Cukup riuh pengunjung bersorak menyemangati. Berkali-kali kelipan cahaya kamera semacam kilat, serta tidak ketinggalan gawai-gawai pengunjung dalam posisi merekam. Ada yang melakukan siaran langsung di Instagram, ada juga yang merekam biasa. 

Waktu sudah sore, sebentar lagi kumandang azan magrib terdengar. Bergegas saya menuju jalan raya, memesan transportasi daring. Di sela-sela waktu menunggu, saya sempat berbincang dengan salah satu panitia terkait acara. Biasanya hari terakhir FKY ada tamu kejutan yang datang. 

Pemuda tanggung yang mengenakan nametag panitia ini mengatakan kalau tamu kejuta yang datang nantinya adalah Guyon Waton. Hanya saja bukan di Kampung Mataraman. Mereka perfom di Embung Julantoro. *Festival Kebudayaan Yogyakarta, 21 Juli 2019.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.