The Bookshop, Toko Buku sebagai Simbol Perlawanan

Film The Bookshop
Film The Bookshop - imdb
Judul: The Bookshop 
Sutradara: Isabel Coixet 
Penulis: Isabel Coixet (screenplay), Penelope Fitzgerald (novel) 
Pemain: Emily Mortimer, Bill Nighy, Hunter Tremayne 
Genre: Drama 

“Ketika kita membaca cerita, kita mendiaminya.” Sebait kalimat yang pertama kali terucap kala film The Bookshop ini tayang. Saya antusias menonton film yang berkaitan dengan literasi, buku, dan apapun yang lainnya. Terlebih film ini diangkat dari sebuah novel yang ceritanya berlatarkan tahun 1959. 

Toko Buku sebagai Simbol Perlawanan 

Inggris tahun 1959. Di kota kecil Anglian Timur, tepatnya di Hardboroug kehidupan masyarakatnya tenang. Namun, dibalik kesopanan penduduk asli, ada sebuah ketidaksukaan masyarakat tersebut dengan pendatang. 

Secara keseluruan, tidak ada pertentangan pendatang dengan masyarakat setempat. Pemantik dari masalah itu muncul karena adanya toko buku baru. Florence Green, perempuan tua yang ditinggal mati suaminya tinggal di kota kecil ini. kesukaannya dengan buku tumbuh kembang dari kecil. 

Kini, dia mempunyai cita-cita membangun toko buku di sebuah rumah tua. Orang setempat menyebutnya dengan nama “The Old House Bookshop.” Sejak awal ingin mendirikan toko buku, sudah terlihat sentimental dari reaski warga lokal. Hanya saja tidak ada yang menolak secara terang-terangan. Penyebabnya dari warga lokal takut tersaingi. 
Mrs Florence Green dengan akan kecil pekerja paruh waktu di Toko Buku - imdb
Mrs Florence Green dengan akan kecil pekerja paruh waktu di Toko Buku - imdb
Di kota kecil tersebut, ada beberapa orang yang giat dalam literasi. Membaca buku, dan terkumpul pada suatu komunitas yang eksklusif. Dari semua orang di sana, satu sosok yang meraik perhatian adalah Mr. Brundish. Dia menghabiskan waktu hanya untuk membaca buku di rumahnya sendirian. 

Uniknya, lelaki paruh baya tersebut juga tinggal sebatangkara di rumah tua. Kebiasaan yang aneh lainnya adalah dia selalu membakar koleksi buku bacaan yang sudah tuntas dibaca, dan dibuat catatannya. 

Lambat laun, toko buku milik Florence Green berkembang pesat. Kemudian banyak anak kecil yang melamar pekerjaan sebagai petugas paruh waktu. Tentu kesuksesan toko buku ini mengusik komunitas yang sejak awal sudah merasa terusik. 

Suatu ketika, Florence Green mendapatkan masukan dari salah satu kawan untuk mencetak buku dalam jumlah yang banyak. Tentu pada masa seperti itu diperlukan keyakinan apakah buku tersebut bakal laris di masyarakat, atau tidak. Banyak buku yang hanya sebagai pajangan tanpa sedikitpun dijamah masyarakat yang datang. 

Sebagai orang yang paham buku, Florence Green berusaha mendapatkan masukan dari orang-orang yang bergelut dengan buku terkait buku yang nantinya ingin dicetak banyak. Salah satu orang yang dituju adalah Mr. Brundish. Sosok yang sangat idealis dan tertutup dengan tetangganya. 

Pertanyaan-pertanyaan terlontar seperti tantangan apa yang alami toko buku tua ini? Apakah ada masyarakat yang membeli bukunya? Siapa yang menjadi penghubung antara Florence Green dengan Mr. Brundish? Atau bagaimana Florence Green bisa bertahan gigih menjaga toko bukunya dari intimidasi pihak luar.
Mr. Brundish membaca koleksi buku sebelum dibakar
Mr. Brundish membaca koleksi buku sebelum dibakar - imdb

***** 

Secara keseluruhan film ini alurnya santai. Tidak ada kejutan-kejutan yang ditampilkan. Perjuangan membuka toko buku, interaksi dengan masyarakat setempat, mengajak mereka melek literasi, dan pastinya cara berkomunikasi dengan baik. 

Menariknya, meski ritmenya lambat, saya pribadi menyimpulkan film ini banyak pesan yang ingin disampaikan. Semuanya pasti berkaitan dengan literasi, buku, dan tentunya minat baca. Karena toko buku di sini lebih mirip taman baca fungsinya. 

Poin yang jelas adalah ajakan kepada anak kecil untuk mulai mengenalkan dengan literasi. Meski awalnya mereka apatis dengan membaca, jika sering dilibatkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan buku, pasti mereka mulai terbiasa untuk membaca. 

Pendekatan ala keluarga wajib dilibatkan. Setiap orang lebih dekat dengan keluarganya. Jika dri pihak keluarga tidak mengenalkan sejak dini, tentu membaca buku terasa sulit untuk dilakukan oleh orang lain. 

Selain itu pastinya poin bagaimana merintis sebuah usaha toko buku pada masa perjuangan itu sulit. Berbagai kendala datang silih berganti. Proses dari merintis hingga tetap bisa bertahan dari berbagai aral menjadi hal yang menarik di film ini. 

Bagiku, The Bookshop menceritakan sebuah pengorbanan seseorang untuk bisa berbuat lebih pada lingkungan sekitarnya. Sebuah usaha tidak hanya memprioritaskan laba semata. Ada nilai-nilai lain yang bisa disebarkan pada lingkungan setempat.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.