Cerita Kala Bertandang ke Pasar Karetan

Salah satu stan di Pasar Karetan
Salah satu stan di Pasar Karetan
Transportasi daring mengantarkanku sampai Boja. Tepatnya di Meteseh, area Radja Pendapa Camp sekaligus lokasi Pasar Karetan di Kendal. Usai membayar, saya melangkah masuk ke pasar. Sudah tampak wajah-wajah yang saya kenali sedang bertugas menukarkan uang ke alat pembayaran. 

Transportasi menuju lokasi lumayan unik, semacam kereta pengangkut pengunjung dari tempat parkir. Kendaraan tersebut berhenti di depan pintu masuk, tanah basah membuat kaki harus lebih hati-hati saat melangkah. 

Area perkebunan pohon karet ini disulap suatu komunitas/kelompok di bawah pengarahan Kemenpar membentuk destinasi digital. Pasar Karetan menjadi corong sebelum pasar-pasar lain dibuka di bawah Kemenpar. Sebelumnya, konsep pasar seperti ini sudah lebih dulu dilakukan oleh Pak Singgih dengan nama Pasar Papringan di Temanggung. 

Langkah demi langkah saya lewati, melintasi pintu masuk, stan kuliner sudah berjejer di tiap kedua sisi jalan. Saya melihat bagaimana sibuknya panitia yang bertugas menukarkan uang. Tiap rombongan pengunjung datang, mereka harus melayani secepatnya. 
Pohon karet dekat area pasar karetan
Pohon karet dekat area pasar karetan
Area perkebunan karet yang disulap menjadi pasar tiap minggu sekali ini sudah ramai. Saya mengelilingi pasar bermodalkan uang tukar 50.000 rupiah. Berbagai kuliner tradisional mudah didapatkan, untuk harga, rata-rata sudah tertera di stan kuliner. 

Terdengar kencang pemandu acara silih berganti mengunjungi tiap stan, bertanya kepada penjual perihal jualannya. Saya menyempatkan menyapa orang-orang dibalik adanya Pasar Karetan, mereka adalah teman-teman dari Genpi Jawa Tengah. 

“Akhirnya datang juga ke karetan,” Sambut teman-teman. 
Menukarkan uang dengan alat mepbayaran di pasar karetan
Menukarkan uang dengan alat mepbayaran di pasar karetan
Saya masuk di dalam WAG Genpi Jawa Tengah, hanya saja tidak aktif di dalamnya. Beberapa kali ikut acaranya. Salah satu faktor yang membuat saya tidak aktif di komunitas tersebut adalah tempat dan waktu yang tidak bisa sepenuhnya fokus ke sana. Terlebih saya orangnya agak malas ikut komunitas. 

Selain kulineran, di Pasar Karetan juga ada banyak hasil karya tangan warga yang dijual. Berbagai kerajinan turut dipajang, berharap ada orang-orang yang berminat untuk membeli. Wajah-wajah penjual sumringah, berharap hari ini adalah keberuntungan bagi mereka. 
Penjual kuliner di Pasar Karetan
Penjual kuliner di Pasar Karetan
Di sudut yang lain, ada lahan khusus anak-anak yang ingin bermain. Tidak ketinggalan barisan hammock, maupun tempat untuk latihan panahan. Panahan di sini dibanderol 10.000 rupiah untuk tiga kali, dan 15.000 rupiah untuk lima kai percobaan. 

Berbagai kuliner yang terpajang membuat saya lapar. Saya membeli makanan biasa seperti pisang goreng dan makanan tradisional. Kulahap sambil duduk di tempat yang sudah tersedia. Tidak terasa uang yang saya tukarkan tinggal sedikit. 
Berbagai hasil karya yang dijual di pasar karetan
Berbagai hasil karya yang dijual di pasar karetan
Ada yang menarik perhatian saya di salah satu stan. Di sana seorang ibu menjajakan minuman tradisional yang menurut saya sendiri unik. Namanya Wedang Kunyit, wedang yang di dalamnya berbagai rempah diaduk menjadi satu. 

“Satu Wedang Kunyit-nya, bu,” Pintaku. 

Bu Nina, salah satu orang yang membuka stan di sini hanya berjualan aneka minuman. Wedang Kunyit ini menjadi minuman paling laris. Beliau baru empat minggu berjualan di Pasar Karetan. Bu Nina sendiri berasal dari Ungaran. 

Sajian wedang kunyit menggunakan gelas yang terbuat dari bambu. Saya menghirup aroma kunyit sangat kental. Warna minumannya pun kuning dan penuh campuran rempah yang lainnya. Cengkeh, Cabai Jawa, Bunga Pekak, Jahe, Kunyit, Kencur, Kapulaga, Sereh, dan Kayu manis. 
Penjual Wedang Kunyit
Penjual Wedang Kunyit
Agar minuman tersebut manis, dicampurnya dengan gula batu dan gula jawa. Tinggal kita ingin minum yang mana. Secangkir wedang kunyit di tangan, saya meneguk, rasanya kental aroma kunyitnya. 

Pedas, manis, dan entah rasanya campur menjadi satu. Minuman ini bagus bagi orang yang sakit flu maupun pilek. Keterangan dari Bu Nani, minuman ini dulu racikan simbah beliau waktu sedang flu. 

“Biasanya habis berapa gelas bu di Pasar Karetan?” 

“Kalau di sini bisa sampai 40 – 50 gelas mas. Ada yang pesan original maupun campuran suisu.” 

Ya, pasar Karetan setidaknya bisa menggeliatkan ekonomi warga setempat, khususnya daerah Meteseh. Area perekbunan yang disulap menjadi pasar tiban tiap minggu mulai dilirik warga setempat untuk berlibur bareng keluarga. 
sepiring mie dan secangkir wedang kunyit
Sepiring mie dan secangkir wedang kunyit
Menjelang siang, saya pulang ke Jogja. Dari Meteseh numpang mobil salah satu penjual stan di Pasar Karena sampai kota Semarang, selanjutnya menggunakan transportasi daring menuju Terminal Sukun, dilanjut menggunakan bus patas sampai di Jogja. 

Harapan saya, pasar-pasar seperti ini lebih banyak dilakukan kolaborasi para Genpi dengan masyarakat/pokdarwis desa setempat. Sehingga keberlanjutannya akan terus ada. *Pasar Karetan Jawa Tengah; Minggu, 19 Maret 2018

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.