Masih dengan kebiasaan menjajal berbagai kopi kemasan yang harganya murah. Kali ini saya membeli beberapa bungkus kopi lelet Lasem cap raja sruput. Menurut beberapa orang di Rembang, bubuk kopi ini rasanya lebih enak. Jadi saya kepincut untuk membeli.
Kopi lelet cap raja sruput ini diproduksi oleh GF Jaya Lasem, Rembang. Satu bungkus kemasan ini beratnya 200 gram. Untuk plastik kemasan mirip dengan kopi-kopi lelet yang lainnya. Berwarna transparan dilengkapi dengan nomor produksi serta logo.
Bahkan di kemasan ini pun disertakan bagaimana cara menyeduh kopinya. Mulai dari berapa takar kopi, hingga menambahkan gula sesuai selera. Menariknya, ditulis juga waktu menyeduh paling optimal 4-5 menit dalam mengaduk.
Sejak dulu saya suka mengopi, mulai dari metode manual seduh, hingga mengopi ala tubruk anak kos dengan tambahan gula secukupnya. Bagi saya, menambahkan gula pada kopi bukan untuk mencari manisnya, tapi mengurangi rasa pahit pada kopi tubruk.
Terlepas dari berbagai perdebatan di media sosial tentang menyeduh kopi dan yang lainnya. Saya hanya fokus untuk diri saya sendiri. Toh bagi saya, yang penting mengopi dan kalau bisa memasarkan produk-produk kopi lokal yang harganya murah untuk dijadikan oleh-oleh.
Kembali ke kopi lelet Lasem cap raja sruput. Saya merasa kopi ini disangrai dengan pekat, biji kopi cenderung gosong, karena ketika saya seduh dengan air panas, aroma kopi yang disangrai begitu terasa. Saya biasanya membuat kopi dengan gelas kaca biasa dan menyeduh sendiri dengan air mendidih.
Rasa seduhan kopi cenderung pekat. Maksud saya, ada rasa pahit dalam setiap seduhan di bagain ujung lidah. Namun, ketika selesai menyeduh, ada rasa nuasan buah sedikit pada pangkal lidah ataupun rongga mulut.
Kopi lelet cap raja sruput ini diproduksi oleh GF Jaya Lasem, Rembang. Satu bungkus kemasan ini beratnya 200 gram. Untuk plastik kemasan mirip dengan kopi-kopi lelet yang lainnya. Berwarna transparan dilengkapi dengan nomor produksi serta logo.
Bahkan di kemasan ini pun disertakan bagaimana cara menyeduh kopinya. Mulai dari berapa takar kopi, hingga menambahkan gula sesuai selera. Menariknya, ditulis juga waktu menyeduh paling optimal 4-5 menit dalam mengaduk.
Sejak dulu saya suka mengopi, mulai dari metode manual seduh, hingga mengopi ala tubruk anak kos dengan tambahan gula secukupnya. Bagi saya, menambahkan gula pada kopi bukan untuk mencari manisnya, tapi mengurangi rasa pahit pada kopi tubruk.
Terlepas dari berbagai perdebatan di media sosial tentang menyeduh kopi dan yang lainnya. Saya hanya fokus untuk diri saya sendiri. Toh bagi saya, yang penting mengopi dan kalau bisa memasarkan produk-produk kopi lokal yang harganya murah untuk dijadikan oleh-oleh.
Kembali ke kopi lelet Lasem cap raja sruput. Saya merasa kopi ini disangrai dengan pekat, biji kopi cenderung gosong, karena ketika saya seduh dengan air panas, aroma kopi yang disangrai begitu terasa. Saya biasanya membuat kopi dengan gelas kaca biasa dan menyeduh sendiri dengan air mendidih.
Rasa seduhan kopi cenderung pekat. Maksud saya, ada rasa pahit dalam setiap seduhan di bagain ujung lidah. Namun, ketika selesai menyeduh, ada rasa nuasan buah sedikit pada pangkal lidah ataupun rongga mulut.
Layaknya kopi yang lainnya, menyeduh kopi ini memang saya rekomendasikan pada saat masih hangat. Karena rasanya jauh lebih keluar ketika airnya masih hangat. Tentu saja beberapa rasa lainnya akan hilang ataupun berubah pada saat diseduh sudah dingin.
Menariknya, ada sensasi sedikit mint dengan keasaman rendah pada saat selesai menyeduh. Bagi yang ingin mencicipi kopi lelet khas Lasem cap Raja Sruput. Kalian bisa membeli di lokapasar yang banyak beredar, harga terjangkau dan pastinya sesuai di kantung kita.
Menariknya, ada sensasi sedikit mint dengan keasaman rendah pada saat selesai menyeduh. Bagi yang ingin mencicipi kopi lelet khas Lasem cap Raja Sruput. Kalian bisa membeli di lokapasar yang banyak beredar, harga terjangkau dan pastinya sesuai di kantung kita.



0 Komentar