Ticker

6/recent/ticker-posts

Ditemani Kopi Gandang Batu Tana Toraja

Kopi kemasan dari Toraja
Kopi kemasan dari Toraja

Hampir tiap hari, saya menikmati waktu dengan menyesap kopi. Berhubung masih pandemi, banyak waktu mengopi di kosan. Saya mengurangi aktivitas di luar rumah seperti mengopi di kedai yang biasa saya lakukan tiap akhir pekan.

Perubahan rutinitas ini menjadikan saya lebih irit. Setidaknya, satu kali mengopi di kedai harganya bisa untuk membeli kopi bubuk kemasan melalui lokapasar yang sudah ada. Stok kopi kemasan di kosan lumayan melimpah.

Ragam kopi dari didominasi dari Lampung, Lasem, hingga Padang. Saya sengaja secara berkala membeli kopi yang berbeda-beda. Tujuannya untuk mengecap rasanya agar tidak penasaran. Meski, cara penyajian saya tetap tubruk dan memakai gula sedikit.

Kegemaran saya mengopi nyatanya diketahui kawan sejawat. Bahkan, mahasiswa yang kuliah di prodi pun paham jika saya gemar mengopi. Hingga pada akhirnya dia menginfokan kalau sedang mengirimkan kopi kemasan bubuk dan biji.

Seingat saya, mahasiswa ini bekerja di instansi kesehatan yang lokasinya di Tana Toraja. Kita semua tahu Tana Toraja adalah pusat kopi sejak lama. Bagi yang suka membaca blog saya, tentu tidak asing dengan novel Surya, Mentari, dan Rembulan. Alur ceritanya juga dari Tana Toraja.

Selang seminggu, bingkisan mendarat di tempat saya. Dua kemasan kopi Tana Toraja yang dikirim langsung dari orang sana sudah sampai di tangan. Saya mengambil gawai dan mengirimkan ucapan terima kasih sembari memotret bingkisannya.

“Semoga Mas Sitam suka kopinya. Itu natural,” Balasnya.

Gandang Batu Coffee – Tana Toraja Natural

Dua bungkus kopi yang saya dapatkan berbentuk bubuk dan biji. Bubuk kopi tersebut yang saya sedih. Sementara biji kopi tidak saya giling, melainkan saya jadikan pengharum ruangan kamar kos. Saya suka menyebarkan biji kopi ke sudut-sudut kamar.

Gandang Batu adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Gandang Batu Sillanan, Tana Toraja. Konon daerah ini berlokasi pada ketinggian 1400-1500 MDPL, tentu ketinggian ini menjadikan kebun kopi mempunyai kualitas tinggi.
Gandang Batu Coffee Toraja
Gandang Batu Coffee Toraja

Kopi kemasan yang dikirimkan ke saya ini natural, ini artinya hasil petikan langsung dijemur. Bagi orang yang suka menyesap kopi filter, saya rasa sangat menyenangkan jika menyesap kopi ini. Untuk mereka yang biasa menggunakan gula, rasanya mungkin agak asam.

Kemasan 250 gram ini sangat layak dijual. Mulai dari kemasan yang sudah bagus, logo ada, pun dengan level roasing. Mau yang light, medium, ataupun, dark. Semua bisa dibeli sesuai pesanan jika langsung ke tempatnya atau melakukan pemesanan menggunakan lokapasar.

Berhubung stok kopi saya sudah menipis, saya langsung menyeduh kopi ini menggunakan metode tubruk. Awalnya, saya sengaja menyesap tanpa menggunakan gula. Hal ini agar rasanya bisa teridentifikasi di lidah, setelahnya baru menggunakan gula.

Saya pribadi menyarankan untuk orang yang suka mengopi dengan gula jangan memilih yang natural. Kesannya agak asam. Sementara saya memang sudah terbiasa menikmati kopi tanpa gula, sehingg a tetap nyaman dan asyik saja.

Kembali saya mengambil kamera dan memotretnya. Lantas mengirimkan kembali kepada orang yang memberikan kopi ini. mahasiswa tersebut tertawa dan mendoakan agar saya bisa menjejakkan kaki di Tana Toraja untuk liburan.
Menyesap kopi kiriman sejawat
Menyesap kopi kiriman sejawat

Percayalah, Sulawesi menjadi pulau yang hendak saya sambangi tatkala pandemi berakhir. Ada banyak cerita yang ingin saya sampaikan tentang Sulawesi dan ikatan batin dengan saya sendiri. Jika memang ada waktu, menginjakkan kaki di Tana Toraja serta menyesap kopinya langsung tentu menyenangkan.

Tegukan demi tegukan tertuntaskan. Satu gelas kopi Toraja tandas. Saya melanjutkan aktivitas mengedit video sepeda. Masih banyak waktu yang bisa saya manfaatkan berkarya. Tanpa sengaja, sebuah pesan kembali masuk.

“Mas Sitam suka kopi, kan? Kalau pas balik Jogja, saya bawakan ini.”

Sebuah gambar kopi kemasan berwana merah tampak dari pesan dari gawai. Saya kembali mengingat, teman satu ini pun berasal dari daratan Sumatera yang terkenal kopinya. Saya langsung membalas dengan ucapan terima kasih.

Ada yang pernah menyesap kopi Toraja? Atau malah menjadikan kopi ini sebagai pilihan kala berkunjung di kedai kopi terdekat? Bagaimana kesannya menyesap kopi dari pulau Sulawesi ini? Semoga menyenangkan, kawan.

Posting Komentar

0 Komentar