Resensi Buku Secangkir Teh Hangat Karya Safwan Hadi

Buku Secangkir Teh Hangat Karya Safwan Hadi
Buku Secangkir Teh Hangat Karya Safwan Hadi

Satu masa, saya melihat unggahan media sosial Gramedia terkait diskon pembelian buku. selain itu, pihak Gramedia juga menerangkan jika potongan setengah harga ini ditambahi dengan gratis biaya kiriman ke pembeli. 

Saya berselancar mencari buku yang sedari dulu sudah saya incar. Beberapa judul buku tersebut tersedia, ada judul yang lainnya tidak tersedia buku tercetaknya. Tanpa mau merugi, saya mencari opsi buku yang lainnya sebagai tambahan. 

Dari deretan judul buku yang saya beli salah satunya adalah Secangkir Teh Hangat. Buku ini baru sempat saya baca setelah berpuluh-puluh purnama hanya terbungkus rapi di meja serta mulai berdebu pembungkusnya. Kali ini, saya selesai membacanya dan berusaha membagikan ulasannya di blog. 

***** 

Judul: Secangkir Teh Hangat - Kumpulan Kisah dan Renungan Inspiratif Tentang Kebijakan Hidup
Penulis: Safwan Hadi
No ISBN: 9786020316734
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Kategori: Inspirasional 


Kumpulan Kisah dan Renungan Inspiratif Tentang Kebijakan Hidup 

Secangkir Teh Panas adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Safwan Hadi. Penulis menuturkan hidup ini layaknya perjalanan air yang begitu panjang, hingga pada akhirnya bisa mendapatkan identitasnya sendiri. 

Analogi kehidupan seperti air dalam secangkir teh yang bisa disesap. Jauh sebelum menjadi sajian teh, air mencari identitasnya dari kubangan kecil bernama kolam, terempas aliran air banjir, mengikuti alur hingga ke sungai. 

Tak sampai di situ, air memasrahkan dirinya larut dalam aliran arus hingga mencapai samudra. Dari samudra, air menguap, membumbung ke angkasa bertemankan bayu, lalu membentuk awan tebal, dan kembali tercurahkan ke bumi dengan butiran-butiran kecil. 

Sesuai dengan judulnya, buku ini penuh dengan cerita yang ditokohkan oleh burung ataupun yang lainnya. Dalam cerita tersebut meninggalkan pesan tentang kritikan berbagai polemik manusia. Bagaimana manusia saat ini berbuat tanpa berpikir panjang. 

Renungan-renungan tentang kisah inspiratif disajikan melalui kisah burung, atau cerita anak muda yang masih bimbang dengan kehidupannya. Dia membutuhkan tuntunan dari orang yang lebih tua, siapapun orang tersebut. 

Seperti yang tertulis pada bagian belakang sampul. Tertulis jelas ada banyak renungan indag dalam kisah inspiratif di buku ini. Penulis mengajak tiap orang berhenti sejenak dari kesibukannya, lalu merenungi semua nikmat yang Tuhan berikan. 

Buku ini penuh syair Rumi yang menarik untuk dibaca dan direnungkan. Tapi saya tidak menuliskan sebait pun syair yang ada di dalamnya. Biar syair tersebut membuat pembaca penasaran untuk membaca sendiri. Namun, ada beberapa kutipan yang bisa saya bagikan. 

“Kita ribut-ribut ingin membantu kerajaan. Kita mengkritik tata kelola kerajaan yang amburadul. Apakah kita sudah memiliki pedoman tata kelola padepokan kita sendiri? – Halaman 59”. 

“Saat takdirmu telah tiba, saat setetes air kembali ke pelukan Sang Samudra, orang-orang tidak kehilangan dirimu karena batu nisanmu ada di hati mereka – Halaman 97” 

“Yang merasa khawatir dan takut itu adalah egomu bukan nurani atau jiwamu – Halaman 159” 
Membaca buku dengan menyesap kopi
Membaca buku dengan menyesap kopi

Pendapat Saya Tentang Kumpulan Cerpen Secangkir Teh Panas 

Secangkir Teh Hangat adalah salah satu judul cerita pendek di buku ini. Sebuah cerita yang menarik untuk direnungkan bersama. Ada 30 cerita pendek di buku ini, beberapa cerita menjadi favorit saya adalah “Ayahku, Guruku, Sahabatku” dan “Duduk Bersama”. 

Membaca kumpulan cerpen karya Safwan Hadi membuat kita merenung, berusaha untuk intropeksi diri, melihat dan mengingat apa-apa yang sudah kita lakukan, serta bagaimana respon kita terhadap sesuatu yang telah terjadi. 

Tiap cerita penuh makna tersurat maupun tersirat. Bagaimana kritikan terhadap suatu permasalahan yang terjadi. Buku ini adalah petuah bagi orang-orang yang ingin membacanya. Tiap petuah harus direnungkan secara mendalam. 

Dari tiap cerita yang sebagian besar dianalogikan sebagai Air, Bayu, Burung, Anak Muda, hingga Orang Tua, berbagai pertanyaan yang menurut kita adalah beban hidup bisa terurai dengan baik. Membacanya, kita dituntut memahami kebijakan hidup. 

Bagi saya pribadi, buku ini adalah sastra yang dalam. Tiap uraian serta berbagai syair Rumi dijadikan pelengkap. Saya harus berpikir apa yang dimaksud, hingga pada akhirnya menjelaskan tentang kerusakan bumi, kemarukan manusia, dan polah yang lainnya. 

Menarik membaca buku ini, meski tidak tebal, tapi saya membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Jauh lebih lama lagi karena hanya saya taruh di atas meja hingga berdebu sampulnya. Jika kalian ingin merenung dengan kisah inspiratif, silakan membaca buku Secangkir Teh Hangat. Selamat membaca!

Posting Komentar

0 Komentar