Sarapan di Warung Makan Bale Kanoman, Bantul

Sarapan pagi di Bale Kanoman, Bantul
Hari masih pagi, saya sudah mengayuh sepeda menuju jalur pedestrian Kotabaru. Sepanjang perjalanan terasa gerimis halus, namun tidak terlihat bakal hujan deras. Langit mendung, mentari tak terlihat. Bisa jadi ini ada pengaruh dari aktifnya Gunung Tangkuban Perahu. 

Mendekati titik kumpul, belum ada pesepeda yang datang. Saya melihat ada satu pesepeda perempuan menggunakan jersei ungu. Bisa jadi ini adalah salah satu dari rombongan yang saya ikuti. Kami bertegur sapa. Nyatanya memang kami janjian dengan orang yang sama. 

Sembari menunggu rombongan, saya menyempatkan memotret sudut-sudut di jalur pedestrian Kotabaru. Tidak perlu lama menunggu, dari arah perempatan Gramedia terlihat iringan sepeda. Saya mengenali beberapa orang tersebut. 
Bersepeda di jalur pedestrian Kotabaru
Bersepeda di jalur pedestrian Kotabaru
Kami berjabat tangan, selanjutnya menyusuri jalan tengah Kota Jogja dengan bersepeda. Bahkan, kami sempat foto di salah satu sudut tempat yang ada bingkai ala-ala. Pada akhirnya tujuan sepeda pagi adalah sarapan. 

Iringan sepeda menuju arah Bantul. Lantas belok ke salah satu tempat makan yang luas. Di tepi jalan bertuliskan Bale Kanoman. Konsep warung ini mengingatkan saya dengan tempat makan yang berada di destinasi wisata. Tempat duduk area terbuka luas dan dipenuhi meja lengkap dengan kursinya. 

Bangunan berbentuk joglo ini tampak sepi. Rombongan kami duduk di teras sembari menunggu waktu buka. Ternyata beberapa teman yang ikut sepedaan sudah pernah sarapan di sini. Hilir-mudik pegawai warung menyiapkan menu. 
Rumah Makan Bale Kanoman, Bantul
Rumah Makan Bale Kanoman, Bantul
Bale Kanoman biasa buka pukul 08.00 WIB. Sementara arloji menunjukkan pukul 07.43 WIB, masih ada seperempat jam baru buka. Kami santai menunggu seraya melepas lelah. Tentu diselingi dengan foto-foto di sudut warung. 

Pegawai warung menyiapkan menu pembuka. Semacam meja angkringan berukuran kecil dipenuhi kuali. Dari keterangan di atas, jelas kuali-kuali tersebut aneka makanan pembuka. Aroma semacam jahe terhirup. 

Rombongan mulai memilih menu pembuka. Aneka jenang yang tersedia masih mengepul panas dari dalam kuali. Aroma khas kuliner ini terhirup. Saya masih memilih-milih kuliner apa yang nantinya kusantap. 

Kami silih berganti mengambil makanan pembuka. Piring yang terbuat dari tanah tertata di samping kuali. Aneka jenang ini bisa dicampur menjadi satu. Jajanan ini mengingatkan saya pada masa lalu, jajanan tradisional yang sudah jarang ditemui. 
Aneka jenang yang disediakan
Aneka jenang yang disediakan
Semangkuk jajanan sudah saya ambil. Kemudian saya letakkan di atas meja. Kali ini waktunya mengambil nasi dan aneka lauk yang sudah tersedia. Pagi ini beragam menu kuliner khas desa disediakan oleh Bale Kanoman. 

Sedikit informasi tentang Bale Kanoman, tempat makan ini dan Kedai Sugara Milk dimiliki satu orang. Rumah makan Bale Kanoman termasuk tempat baru. Kali pertama didirikan pada bula Februari 2019. Namun, hingga sekarang sudah pesat pengunjungnya. 

Sebagai rumah makan yang bangunannya sangat besar, disokong area parkir yang luas, tentu Bale Kanoman menggaet pengunjung dalam jumlah besar. Hal ini diutarakan Mas Erwin jika tiap siang tempat ini ramai pengunjung, khususnya bus wisatawan. 

Saya tertarik melihat daftar menu yang ditawarkan. Kita bisa memilih aneka sayuran, menu makanan desa secara personal ataupun berkelompok. Menu paketannya mulai untuk yang berkisar pengunjung 20 hingga 100 orang. 
Daftar menu dan harga di Bale Kanoman Bantul
Daftar menu dan harga di Bale Kanoman Bantul
Tawaran yang diberikan biasanya sayur lodeh, Lombok ijo, brongkos, ataupun sayur bening. Untuk lauknya kombinasi ayam ataupun mangut lele. Ini juga sudah lengkap dengan minuman dan tambahan tahu/tempe. Menarik jika membawa rombongan berjumlah besar. 

Guna menggaet banyak pengunjung, Bale Kanoman bekerjasama dengan berbagai travel perjalanan untuk makan siang ataupun makan malam. Biasanya wisatawan diajak makan di sini, kemudian berlanjut ke destinasi yang lainnya. 

Warung ini buka mulai pukul 08.00 WIB, dan tutup pada pukul 21.00 WIB. Tidak dapat disangkal jika tempat ini menjadi pendaratan para wisatawan yang berwisata di Bantul dan sekitarnya. Bekerjasama dengan pihak biro perjalanan menjadi hal yang wajib bagi tiap rumah makan di Jogja. 

Saya menuju deretan meja panjang yang sudah menyajikan berbagai menu sarapan. Saya tertarik menikmati mangut lele. Tidak hanya saya, teman rombongan sepeda yang lainnya juga sudah memilih menu sarapan sesuai keinginannya. 
Menu sarapan dalam bentuk prasmanan
Menu sarapan dalam bentuk prasmanan
Sarapan Mangut lele di Bale Kanoman
Sarapan Mangut lele di Bale Kanoman
Nasi masih mengepul, ditambahi mangut lele lengkap dengan kuahnya. Saya meminta minum teh tawar hangat. Kombinasi yang lengkap untuk mengisi perut. Nikmatnya lagi, pemandangan warung ini petakan sawah di belakang. 

Ada banyak warung makan yang menyajikan menu makanan desa. Salah satu yang paling dikenal adalah Kopi Klotok, Kampung Mataraman, hingga sekarang Bale Kanoman yang lokasinya lebih dekat dengan jantung Kota Jogja. 

Untuk sementara waktu, saya dan teman rombongan sepeda menikmati sarapan pagi bersama di Bale Kanoman. Aktivitas pagi ini adalah sepedaan untuk kulineran. Rute sepeda tidak jauh, yang penting kulineran dan foto-foto. *Bale Kanoman; Sabtu, 27 Juli 2019.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.