Beberapa minggu yang lalu, kawan pulang vakansi dari Lombok. Seperti biasa, beliau membawa bingkisan kopi untuk dinikmati di ruang kerja. Saya menjadi orang perta yang menyeduh kopi dari Lombok tersebut.
Kemasan kopi dengan berat bersih 100 gram ini bertuliskan “Traditional Lombok Coffee Sembalun Robusta”. Kubuka kemasan kopinya, aroma harum kopi merebak. Sekilas, aroma ini mirip dengan beberapa kopi dari Lampung.
Saya suka menyeduh kopi ala kadarnya ala akan kos. Kopi saya buat layaknya orang menyajikan kopi tubruk. Bubuk kopi digiling dengan halus, tapi tidak paling halus. Sehingga masih cukup terlihat bubuk kopinya.
Takaran yang saya ambil untuk seduhan mengikuti insting. Sengaja saya tambahkan sedikit gula agar rasanya tidak terlalu pahit. Begitu air panas saya tuangkan, aroma khas kopi bercampur dengan jagung. Sepertinya, pada saat menggiling, kopi ini ada sedikit tambahan jagungnya.
Aroma semacam jagung memang merebak. Saya menyeduh kopi tersebut. Rasanya lebih ternyata cukup manis. Terlebih sudah saya tambahkan gula. Sepertinya, kopi ini cukup ringan dan cocok diminum oleh khalayah umum.
Saya cukup menikmati kopi Sembalun ini. Rasanya tidak begitu tebal kopinya, serta warnanya juga tidak sangat pekat. Ketika air panas diseduhkan, bagian atas terdapat ampas seperti jagung yang naik, kemudian tenggelam dalam dasar gelas.
Bagi saya pribadi, kopi-kopi lokal penuh dengan khas masing-masing. Kopi Sembalun ini menurut saya bisa menjadi opsi oleh-oleh jika kalian bervakansi di Lombok. Oke, satu kopi sudah saya coba lagi, ke depannya masih ada beberapa kopi lainnya yang harus saya cicipi.
Kemasan kopi dengan berat bersih 100 gram ini bertuliskan “Traditional Lombok Coffee Sembalun Robusta”. Kubuka kemasan kopinya, aroma harum kopi merebak. Sekilas, aroma ini mirip dengan beberapa kopi dari Lampung.
Saya suka menyeduh kopi ala kadarnya ala akan kos. Kopi saya buat layaknya orang menyajikan kopi tubruk. Bubuk kopi digiling dengan halus, tapi tidak paling halus. Sehingga masih cukup terlihat bubuk kopinya.
Takaran yang saya ambil untuk seduhan mengikuti insting. Sengaja saya tambahkan sedikit gula agar rasanya tidak terlalu pahit. Begitu air panas saya tuangkan, aroma khas kopi bercampur dengan jagung. Sepertinya, pada saat menggiling, kopi ini ada sedikit tambahan jagungnya.
Aroma semacam jagung memang merebak. Saya menyeduh kopi tersebut. Rasanya lebih ternyata cukup manis. Terlebih sudah saya tambahkan gula. Sepertinya, kopi ini cukup ringan dan cocok diminum oleh khalayah umum.
Saya cukup menikmati kopi Sembalun ini. Rasanya tidak begitu tebal kopinya, serta warnanya juga tidak sangat pekat. Ketika air panas diseduhkan, bagian atas terdapat ampas seperti jagung yang naik, kemudian tenggelam dalam dasar gelas.
Bagi saya pribadi, kopi-kopi lokal penuh dengan khas masing-masing. Kopi Sembalun ini menurut saya bisa menjadi opsi oleh-oleh jika kalian bervakansi di Lombok. Oke, satu kopi sudah saya coba lagi, ke depannya masih ada beberapa kopi lainnya yang harus saya cicipi.



0 Komentar