Review Novel Dua Sisi Bintang Karya Dian Purnomo

Novel Dua Sisi Bintang Karya Dian Purnomo
Novel Dua Sisi Bintang Karya Dian Purnomo
Di antara tumpukan berbagai buku bacaan sebuah lapak pada gelaran Kampung Buku Jogja 2017, saya tertarik sebuah buku yang tidak tebal dengan sampul mencolok. Semacam lekuk tubuh perempuan menggunakan kutang dan bertuliskan “Dua Sisi Bintang” 

Sempat bimbang apakah buku ini bagus atau tidak. Saya tidak berusaha untuk mencari informasi terlebih dahulu di perambah. Naluriku berkata beda. Saat itu juga, saya langsung mengambil dan turut antre di meja kasir untuk menebusnya. 

Judul: Dua Sisi Bintang
Penulis: Dian Purnomo
Penerbit: d.publisher
Halaman: vi+272
Nomor ISBN: 978-602-96726-2
Cetakan Pertama: April 2010
Genre: Fiksi, Drama 


Bintang! Kamu Sungguh Berbeda

Kemuning, perempuan cantik yang memikat banyak lelaki ini hidup dengan keluarga yang mapan, mempunyai kakak lelaki yang perhatian, pun dengan jalinan asmaranya berjalan semestinya. Sebenarnya tidak ada masalah yang dirasakan. 

Lama-kelamaan, perempuan yang lebih suka disapa dengan sebutan Kuning ini seperti merasakan hal yang berbeda. Ada sesuatu yang menurutnya sangat membuat dia penasaran dengan sosok perempuan. Padahal dia sendiri sudah mempunyai pacar. 

Pada akhirnya rasa yang mengganjal dan menurutnya aneh ini semakin menyeruak hendak membuncah. Terlebih saat di kantornya terdapat anak muda yang sedang magang. Bunga, mahasiswi cantik namun terlihat misterius baginya. 

Awalnya, Kuning merasa dirinya ini ada yang salah. Perasaan kepada Bunga bukan hanya tentang persahabatan, kawan yang baru dikenal, anak magang, atau sejenisnya. Namun, lebih pada orientasi yang berbeda. Dia merasa suka dengan gadis manis tersebut. 

Sebuah perasaan yang menggebu-gebu, namun sebisa mungkin ditahannya agar tidak menyinggung bunga ataupun orang lain, bahkan dengan mantannya sekalipun. Dia berusaha menutupi apa yang terjadi, meski secara tersirat dia tidak mampu untuk melakukannya. 

Bagaimana dengan Bunga? Gadis yang mendadak semacam ditaksir sesama perempuan ini kala berinteraksi dengan Kuning. Siapakah sebenarnya Bunga ini sehingga mampu mengusik Kuning dengan cara yang berbeda. Apa tanggapan kawan-kawan Kuning dan keluarga? 

Tentu ada banyak kejutan yang terjadi. Polemik tak berujung, rasa cinta yang terlarang, hingga karut-marutnya sebuah kehidupan. Apa mungkin Kuning bisa terlepas dari semua yang menghantui kehidupannya selama ini. Entahlah. Berikut beberapa kutipan yang ada di novel Dua Sisi Bintang. 

“Karena kalau benar dia sedang jatuh cinta, maka ini adalah cinta yang luar biasa. Ini bukan cinta yang pernah dialaminya. Ini adalah sesuatu yang baru – halaman 56” 

“Kita memang pasangan paling bodoh di dunia Kuning. Ini adalah lakon yang harus kita lewati berdua. Terima kasih sudah membangunkanku hari ini. Kuanggap lunas hutang pedihku karena kamu tolak selama ini – halaman 177” 

“Kalian akan saling mencintai. Dengan cinta semua orang bisa bertahan hidup. Dengan cinta kita bahkan bisa menghentikan perang. Kita bisa menghilangkan rasa sakit – halaman 227” 
Menyesap kopi dan membaca novel Dua Sisi Bintang
Menyesap kopi dan membaca novel Dua Sisi Bintang

Benarkah cinta atau sekadar kepuasan belaka? 

Sedari awal saya melihat sampul depan, sempat terpikirkan apakah judul dan gambar tersebut mengarah pada sesuatu hal yang tahu di Indonesia. Lebih detailnya terkait jalinan cinta antar dua insan yang sejenis. 

Alur cerita yang dikemas biasa ini memang mengarah ke sana. Layaknya kehidupan kota besar, perbincangan menggunakan kata “Elo & Gue” tersaji. Konflik keluarga tidak terlihat. Salah satu yang ditonjolkan penulis adalah kehidupan dan pergaulannya. 

Problematika sebuah pergaulan di kota besar yang bebas cenderung pada gaya hidup. Sedikit tersaji di sini bagaimana kehidupan orang yang lepas kontrol dan mulai menggunakan obat untuk melupakaan sesaat. 

Pun dengan asmara, lebih khususnya tentang orientasi seksual. Cerita di novel ini menonjolkan sosok perempuan yang berusaha mencari jati dirinya. Berkali-kali berusaha menaruh hati kepada lelaki, namun malah luluh dengan kehadiran seorang perempuan. 

Mulai dari tengah cerita hingga terakhir, gelutan cinta yang tabu di Indonesia it uterus mengalir. Berusaha melampiaskan namun takut dengan pandangan orang di sekitarnya. Terlebih di Indonesia, hal itu sesuatu yang sangat tidak wajar. 

Konflik percintaan sejenis inilah yang ditekankan penulis. Bagaiman tanggapan teman ataupun keluarganya. Atau dengan orang lain yang mungkin sebenarnya sudah tahu tentang orientasi tersebut. 

Cerita yang menurut saya cukup menarik. Bagaimana sebuah persahabatan itu harus melepas ego, apapun alasannya. Menerima teman dengan segala perbedaan, dan tidak pernah menyudutkan ketika orientasinya berbeda. 

Dian Purnomo bisa menggali sebuah cerita dengan alur yang cukup romantis. Menjadikan penggalan lirik lagu sebagai pembuka di setiap bab, hingga rangkaian kata puitis yang cukup menggelitik. 

Setiap cerita tidak pernah sempurna. Namun, percayalah jika penulis berusaha menyampaikan pesan kepada pembacanya. Saya sendiri menikmati setiap alur yang diceritakan. Meski sesekali menemukan kata yang salah ketik. Terlepas dari itu, tentu tetap menyenangkan untuk dibaca.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.