Ticker

6/recent/ticker-posts

Berburu Oleh-oleh di Pasar Pujabahari Batam

Pasar Pujabahari Batam
Cuaca mendung menggelayut, menjelang akhir tahun biasanya musim penghujan menyapa. Di dalam mobil, saya hanya melongok suasana luar. Cukup ramai juga jalanan di Batam. Khususnya sekitaran menuju pasar Pujabahari. 

Tidak berapa lama, hujan mengguyur. Kami memarkirkan mobil di tepian jalan, tujuannya ingin mencari oleh-oleh yang nantinya saya bawa pulang ke Jogja. Padahal Batam adalah destinasi kedua yang saya tuju. Masih ada Bangka dan Belitung. 

Curah hujan sangat deras, saya berlarian menuju teras salah satu kios di pasar Pujabahari. Selang setengah jam hujan berhenti, hanya menyisakan genangan air di jalanan. Saya menuju ruas jalan. Dari sini berusaha mengabadikan suasana lumayan sepi di pasar. Maklum baru reda hujannya. 

Tulisan besar Pasar Pujabahari terpajang pada salah satu dinding bangunan. Pun dengan semacam prasasti kecil yang menerangkan bahwa sekarang ada di Kota Batam. Kota Batam Bandar Madani. 

Sedikit berlarian saya berusaha menghindari gerimis yang kembali turun. Deratan kios sudah buka, mereka memajang barang-barang yang dijual. Rata-rata di sini menjual oleh-oleh. Khususnya lagi makanan dan kaus. 
Selepas hujan di Pasar Pujabahari Batam
Selepas hujan di Pasar Pujabahari Batam
Masih ada banyak waktu sebelum mengunjung Pantai Coastarina, saya memasuki salah satu jalur yang ada di pasar. Berusaha melihat bagaimana suasana di dalam pasar. Sebenarnya aktivitas mengunjungi pasar ini juga saya lakukan swaktu di Jogja. 

Jika di Jogja saya lebih sering berkunjung ke Pasar Tradisional, lantainya biasanya hanya berbalur semen. Di sini jauh lebih rapi dan bersih. Lorong-lorong cukup besar dan lantai sudah dikeramik berwana putih. 

Lorong ini menyajikan camilan. Aneka makanan ringan yang biasa tersaji saat lebaran sudah berada di dalam stoples. Tampak juga aneka manisan dan coklat yang bisa kita beli dalam jumlah porsi yang besar. 
Melihat camilan yang dijajakan
Melihat camilan yang dijajakan
Saya hanya melewati dan melihat aktivitas para pengunjung pasar. Mereka tampak santai wakau saya beberapa kali memotret aktivitasnya. Sepertinya mereka tampak tidak keberatan. Cukup tersenyum kala saya memotret. 

Tiap lapak kios di pasar sudah terbagi menjadi beberapa tempat. Misalkan area ini untuk sembako, makanan ringan, sayuran, hingga tempat penjualan lauk seperti ikan dan daging. Wadah-wadah berbentuk stoples plastik di dalamnya sudah ada berbagai jenis ikan asin. 

Bau semerbak ikan asin tercium. Saya sendiri sudah terbiasa dengan aroma seperti ini. Di beberapa kesempatan, jika sedang berkunjung di tempat pelelangan ikan biasanya aroma ikan asin tercium tajam. 

Tampak tumpukan berbagai ikan yang sudah dikeringkan, salah satunya adalah ikan teri. Cukup banyak jenis ikan yang ada di pasar. Semuanya tertata rapi. Tidak terlihat penjualnya, saya berhenti sejenak, memotret, dan menyusuri lorong-lorong pasar. 
Ikan asin tertata rapi di pasar
Ikan asin tertata rapi di pasar
Satu pemandangan yang berbeda dengan di pasar-pasar lainnya. Di sini dengan mudah saya melihat berbagai minuman beralkohol yang terpajang di tiap sudut rak. Minuman-minuman ini seperti barang biasa. 

Berbagai jenis minuman tertata rapi. Mulai dari merek yang sudah saya sedikit ketahui, hingga merek yang masih asing. Saya hanya melihat dereta botol tersebut karena tertarik dengan bentuk botolnya yang bagus. 

Untuk di Batam, tentu hal ini lumrah. Berbeda dengan di tempat yang lainnya, terlebih di Jawa. Minuman seperti ini hanya dijual pada tempat-tempat tertentu, itupun sangat ketat pengawasannya. 

“Mau beli?” Tanya seorang penjual ke arahku. 

Saya menggeleng sembari tersenyum. Toh bingung kalau membeli minuman beralkohol untuk siapa. Terlebih sedari dulu saya memang tidak pernah menjamah minuman tersebut. Untuk sesaat saya berlalu, meneruskan langkah menapaki jalan di sekitaran pasar. 
Minuman beralkohol yang dipajang
Minuman beralkohol yang dipajang
Sebenarnya tujuan ke pasar hanya untuk menghabiskan waktu saja, sekalian mencari oleh-oleh seperti makanan yang tidak berat dibawa. Saya ingat tiap ada kawan yang dari Batam, dia pasti membawa oleh-oleh coklat. 

Hingga akhirnya saya berada di depan sebuah toko yang bertuliskan oleh-oleh. Toko tersebut bernama Kawi Jaya – Pusat Oleh-oleh. Saya melongok dari luar sebelum memastikan masuk. Di dalam sudah ada beberapa pengunjung yang melihat berbagai oleh-oleh. 

Berbagai jenis oleh-oleh tertata rapi. Saya mengarahkan langkah menuju tempat coklat. Beragam coklat yang dipajang. Tentu ini menjadi permasalahan tersendiri. Niat hati ingin membeli banyak, lantas ingat jika masih ada dua kota lagi yang harus saya singgahi. 

Sempat melihat berbagai jenis oleh-oleh khususnya coklat, saya membeli sekadar untuk camilan sepanjang perjalanan. Tidak beli banyak, hanya satu bungkus saja. Seperti perjalanan-perjalanan di waktu silam, saya memang cenderung jarang membawa oleh-oleh kala pulang dari liburan. 
Pusat Oleh-oleh Kawi Jaya di Batam
Pusat Oleh-oleh Kawi Jaya di Batam
Membeli oleh-oleh coklat di pasar
Membeli oleh-oleh coklat di pasar
Saatnya kembali melanjutkan perjalanan. Ingin rasanya kembali menyeduh kopi. Sejak semalam, saya baru menikmati kopi di sekitaran Nagoya Hill, dan paginya menyeduh kopi dari hotel. Sudah waktunya kembali menyeduh kopi sebelum meninggalkan Batam. 

Tidak banyak aktivitas yang saya lakukan di Batam. Niat awal memang hanya sekadar singgah agar tidak lagi penasaran dengan Kuliner Gonggong. Tatkala kuliner tersebut sudah saya nikmati semalam, hari ini cukup menuju satu destinasi saja. 

Bagi kalian yang berkunjung di Batam dan tidak mempunyai banyak destinasi tujuan atau waktu kunjungan hanya sebentar. Bisalah mencari oleh-oleh di sekitaran pasar. Setidaknya ada banyak oleh-oleh yang bisa dibawa pulang. *Batam; 25 Oktober 2018

Posting Komentar

0 Komentar