Santap Kuliner Bersama Kawan saat Liburan

Nasi Kikil Bu Tandur Jombang
Nasi Kikil Bu Tandur Jombang
Liburan dan kuliner memang tak bisa dipisahkan. Meski aku bukan orang yang gemar mencari kuliner-kuliner di daerah setempat, namun saat berlibur kadang menjadikoan kuliner sebagai opsi tujuan. 

Kali ini aku ingin mengulas sedikit kuliner yang aku nikmati kala bermain di Jawa Timur; khususnya waktu liburan ke Jombang dan Lamongan. Foto-foto ini sudah mangkrak lama di laptop, sayang rasanya jika tidak aku ulas. 

Sebelum jauh membahas kuliner-kuliner tersebut, aku pada tahun 2017 sempat bermain ke Jawa Timur bersama teman blogger. Sebagai blogger ala-ala, agenda famtrip ini dadakan. Berangkat dan pulang naik bus. Destinasi wisata yang dituju sudah disiapkan tuan rumah. Jadi kami tinggal datang, main, ghibah, dan pulang. 

Sebagian kuliner sudah aku posting satu tahun yang lalu. Hanya saja tidak semuanya berjalan dengan lancar. Kali ini, aku tulis kuliner-kuliner yang kami sambangi kala bermain ke dua kota tersebut. 

***** 

Nasi Kikil Bu Tandur di Jombang 

Senja berlalu, aku sempat mengabadikan momen mentari terbenam di sungai Brantas. Lantas menunaikan salat di masjid agung Jombang. Rombongan lantas menyusuri stand kuliner yang berada di Alun-alun Jombang untuk mencari camilan. 

Puas jalan-jalan, mobil diarahkan ke jalan KH. Hasyim Asyari. Menjelang mala mini kami rencananya ingin kulineran khas Jombang. Lengkap rasanya, siang sudah menikmati kulineran di Mojokerto, malam kami kami menjelajah Jombang. 

Mobil-mobil terparkir, warung dengan baluran cat kuning ramai. Nasi Kikil Bu Tandur menjadi tujuan kuliner. Informasi saja, jika kalian ke Jombang dan belum mencicipi Nasi Kikil, artinya belum sah. Setidaknya itu pendapat dari kami. 
Warung Nasi Kikil Bu Tandur kala malam hari
Warung Nasi Kikil Bu Tandur kala malam hari
Deretan kursi mulai ramai. Kami berbagi duduk dengan pengunjung yang lainnya. Rata-rata pengunjung adalah rombongan ziarah. Di sini, aku bertemu dengan rombongan dari Kadilangu, Demak. 

Nasi Kikil Bu Tandur buka mulai pukul 17.00 WIB. Warung ini hanya buka beberapa jam saja. Biasanya pukul 21.00 WIB, sudah habis. Sepertinya, nasi kikil ini memang menjadi tujuan utama para wisatawan. Dalam sehari, warung ini menghabiskan masakan nasi sebanyak 20kg, dan lauk sekitar 30kg. 
Lauk nasi kikil bu tandur
Lauk nasi kikil bu tandur
Pemilik warung bernama Pak Sucipto, beliau berusia 50 tahun lebih dan merukapan generasi kedua pemilik warung. Menu-menu yang ditawarkan adalah danging, paru, limpa, jantung, hati, kikil goreng, babat, dan pangkal lidah. Aku sendiri menikmati lauk pangkal lidah. 

Secara keseluruhan satu porsi menu harganya 30 ribu/porsi. Namun harga ini menurutku cukup sesuai dengan citarasanya. Bagi kalian yang ingin berkunjung ke Jombang, mungkin bisa kuliner di sini. Lokasinya sendiri tidak jauh dari Alun-alun Jombang. 

Nasi Boran Lamongan 

Sebuah lapak warung makan di pinggir jalan dan berada tidak jauh dari jembatan cukup ramai. Sepintas, para pembeli sepertinya warga setempat. Mereka berkumpul, menunggu antrean dilayani penjual. Mobil yang kami naiki berhenti, kami ikutan mengantre mencari sarapan. 

Aneka menu tersaji di depan mata. Lapak ini merupakan tempat kuliner yang cukup terkenal di Lamongan. Nasi Boran Lamongan, kuliner yang mesti dicoba jika berkunjung ke kabupaten tersebut. 
Jejeran lauk nasi boran Lamongan
Jejeran lauk nasi boran Lamongan

Meja panjang terdapat berbagai menu seperti udang, ayam, dan jeroan. Atau ada juga yang namanya Pletuk (campuran dari nasi aking dan kacang), berbagai sayur, srta ada juga yang namanya Empuk dan Meyong (katanya terbuat dari ubi). Entahlah, pokoknya beragam. Nasinya bisa memilih nasi putih atau nasi jagung. 

Nasi Boran ini buka sedari pagi pukul 05.00 WIB hingga tutup pukul 10.00 WIB. Waktu yang tepat untuk sarapan. Warung yang aku kunjungi ini milik Ibu Subiya, lebih dikenal dengan sebutan Bu Ya. 
Sebungkus nasi boran
Sebungkus nasi boran
Kisaran harga dimulai dari 10.000 rupiah; tergantung lauk yang kita makan. Aku sendiri menikmati nasi boran dengan lauk udang. Untuk menambah citarasa, kita bisa emilih sambal terasi atau sambal kemangi sebagai tambahan. Penyajian nasi boran menggunakan daun pisang. Bisa dirasakan bagaimana nikmatnya makan dengan aroma bungkus daun pisang. 

Asem-Asem Iwak Kutuk Lamongan 

Tampaknya, kami sudah terbiasa menikmati kuliner di manapun. Setiap ada warung yang dirasa ramai, kami turun dari mobil dan mencoba menunya. Sama halnya waktu masih di Lamongan, warung kecil di pinggir jalan ini menjadi tujuan. 
Warung Asem-asem ikan kutuk
Warung Asem-asem ikan kutuk
Di warung yang cukup ramai dikunjungi orang untuk sarapan, aku masuk dan turut antre. Dari dalam kuali sudah tersaji menu andalam, Asem-asem Ikan. Dua ikan yang dijadikan lauk asem-asem adalah ikan Kutuk dan Bandeng. 

“Kalau kurang, nasinya bisa ambil lagi, mas. Boleh nambah kok.” 

Tentu saja selera saranku naik melihat menu yang masih mengepul di hadapan. Tanpa berlama-lama, aku sudah mengambil satu piring nasi putih dan seiris ikan bandeng. Porsi yang menurutku sudah banyak. 
Menikmati seporsi asem-asem ikan bandeng di Lamongan
Menikmati seporsi asem-asem ikan bandeng di Lamongan
Aku suka ikan bandeng, sekilas bentuknya seperti ikan pindang. Kuah kuning ini mengingatkanku dengan masakan di rumah. Bedanya, jika di sini ikan air tawar, di rumah identik dengan ikan laut. Satu porsi makan plus teh panas hanya 13.000 rupiah. Murah dan mengenyangkan. 

***** 

Rangkaian kuliner ini sengaja aku tulis menjadi satu ketika berlibur bareng teman. Pada dasarnya, makan di manapun jika bersama teman tetaplah menyenangkan. Enaknya dapat, kompaknya dapat, dan harganya sesuai dengan kondisi kantung ala backpackeran. 

*Catatan; kuliner di Jombang dan Lamongan pada bulan Agustus & Desember 2017. Harga tiap porsi kemungkinan sudah berubah.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.