Hujan dan Sepiring Miedes Bu Yanti Pundong

Miedes Bu Yanti Pundong
Miedes Bu Yanti Pundong
Tidak terasa saya sekarang sudah berada di dapur pembuatan Miedes Bu Yanti di Pundong. Sejak siang, saya berserta kawan-kawan menghadiri pernikahan teman di Pundong. Menjelang sore menunggu sunset di Bukit Paralayang, malamnya kembali ke Pundong untuk kulineran. 

Miedes Bu Yanti merupakan salah satu kuliner di Bantul yang bisa kalian kunjungi. Lokasinya ada di Monggang, Srihardono, Pundong, Bantul. Jika kalian menikmati sunset sore di Pantai Parangtritis, pulangnya bisa kulineran mie yang terbuat dari singkong di tempat ini. 

Rute menuju rumah bu Yanti cukup mudah, tinggal mengikuti peta yang ada di gawai. Jika kesulitan, tinggal tanya ke warga setempat pasti dibantu. Tepat di depan rumah terdapat plang bertuliskan Miedes Bu Yanti, pun dengan kendaraan roda dua yang berjejer. 

Kebiasaan saya ketika kulineran itu masuk ke dapur, berbincang dengan pemilik warung, dan meminta izin mengabadikan segala aktivitasnya. Selang beberapa waktu, saya sudah asyik berbincang sembari memotret. 
Menilik pembuatan Miedes khas Bantul
Menilik pembuatan Miedes khas Bantul
Hujan deras kali ini tidak menyurutkan keinginan para pecinta miedes. Justru hujan deras malah asyik menikmati seporsi miedes dengan tambahan cabai. Para pengunjung sabar menanti hidangannya. Di dapur, ibu-ibu sibuk memasak miedes. 

“Bu, dua miedes ya.” 

“Iyo mas. Iseh antre.” 

Sekali memasak, Bu Yanti bisa langsung menghasilkan 9 porsi miedes. Tiap satu porsi membutuhkan sekitar 2 ons mie. Sembari meracik bumbu, saya bertanya-tanya seputaran usaha miedes. Oya, di Pundong ada beberapa warung miedes yang bisa disambangi. 
Pengunjung yang menunggu pesanan
Pengunjung yang menunggu pesanan
Bu Yanti menjadi generasi kedua setelah orangtuanya yang merintis miedes. Lambat laun miedes rintisannya ini menjadi pribadona bagi kuliner di Jogja dan sekitarnya. Makin hari makin banyak yang datang. Sebagian besar pengunjung itu penasaran rasa miedes. 

Bagi kalian yang penasaran miedes, kalian bisa ke sini dan merasakan sensai makannya. Olahan tepung ketela dijadikan mie menciptakan citarasa yang unik dan berbeda. Sedikit lebih lunak dan kenyal. 

Dulu bu Yanti membuat bahannya sendiri. Kalau sekarang beliau tinggal menerima antaran bahan dari warga setempat untuk bahan bakunya. Warung kuliner miedes bu Yanti ini buka mulai pukul 17.30 – 00.30 WIB. 

Usaha bu Yanti tidak dikerjakan sendirian. Beliau mempunyai tiga karyawan yang membantu dalam memasak maupun menghidangkan makanan. Hanya saja dalam urusan meracik bumbu, bu Yanti melakukannya sendiri. 

Setiap hari pengunjung yang datang selalu banyak. Dihitung secara rata-rata, dalam satu malam bisa mencapai 300 pengunjung yang datang. Ini sudah termasuk yang dibungkus. Hari yang paling ramai kunjungan malah malam senin. 
Miedes pesananku siap santap
Miedes pesananku siap santap
Bisa jadi minggu malam senin menjadi ramai karena banyak pengunjung yang main ke Pantai Parangtritis dan sekitarnya, sehingga mereka tidak mau melewatkan kuliner miedes. Seperti yang saya lakukan mala mini. Meskipun hujan deras, kulineran tetap berjalan semestinya. 

Lumayan lama saya dan teman menunggu giliran. Dua piring miedes datang lebih awal. Asap dari kuah mie mengepul, tanda makanan ini masih panas. Tak teinggalan potongan kol dan cabe yang terlihat di permukaan piring. 

Ditemani curah hujan lebat, saya beserta kawan menikmati sepiring miedes panas nan pedas. Memang benar, kuliner miedes itu paling enak disantap kala hujan. Terlebih medes bu Yanti termasuk murah. Sepiring miedes dan minuman hanya seharga 11.000 rupian. Satu porsi mie seharga 8000 rupiah. 

Penasaran dengan kuliner miedes bu Yanti? Kalian bisa mengagendakannya kala bermain ke Bantul.

2 komentar:

  1. saya baru tau ada olahan mie dari ketela. Iya lah kan mbak soalnya resep turun temurun, ga akan ada yang kedua begini.. haha.. penasaran rasanya kayak apa, enak pasti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Bantul banyak kuliner khas yang menarik dikunjungi mas. Selain Miedes ada juga namanya Mie Lethek.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.