Gemerlap Borobudur International Arts and Performance Festival 2018

Gemerlap Borobudur International Arts and Performance Festival 2018
Gemerlap Borobudur International Arts and Performance Festival 2018
Hawa dingin merasuk, musim pancaroba membuat suhu turun drastis. Saya beserta rombongan sedang asyik menyaksikan pagelaran akbar di Candi Borobudur. Borobudur International Arts and Performance Festival digelar tanggal 06 – 08 Juli 2018. 

Panggung besar mulai silih berganti menampilkan tarian. Dibuka dengan iringan penari yang mengantar tamu menuju kursi tersedia, lalu sajian tarian Serampang 12 memukau. Tarian khas dari Sumatera Utara ini membuat saya dan pengunjung lainnya takjub. 

Belum usai rasa takjub, secara berurutan tarian lainnya menyusul. Saya ingat salah satu tarian lainnya yang disusulkan adalah tarian massal Bramarupa, Tari Rampo Aceh, dan lainnya; bahkan ada tarian yang menceritakan tentang Pulau Kemaro. 
Tarian yang disajikan pada malam BIAPF 2018
Tarian yang disajikan pada malam BIAPF 2018
Tidak ketinggalan para orang manca berkolaborasi dengan penari Indonesia. Sembari memetik gitar, bermain seruling, dan perkakas lainnya; Christian (Kosta Rika) & Dora (Hungaria) mengiringi penari dari sanggar Kinari-Kinari. 

Saya masih diam dan takjub, di suasana dingin seperti ini, antusias pengunjung masih ramai. Malam makin larut, saya melihat sekeliling. Sisi kanan terdapat deretan stand. Di sana tiap kabupaten memasang potensi keunggulan tiap kabupatennya. 

Sesekali kamera yang tertenteng dileher bekerja. Saya mengabadikan tarian tersebut dari jarak cukup jauh. Sayang rasanya saya lupa membawa tele. Tapi tak masalah, yang paling penting saat ini adalah mengabadikan. 
Para penari beraksi di atas panggung dan di bawah panggung
Para penari beraksi di atas panggung dan di bawa h panggung
Bagi sebagian pengunjung, mereka asyik menikmati sajian dari Borobudur International Arts and Performance Festival. Sebagian lagi malah asyik menikmati kuliner, berfoto di titik-titik swafoto, atau malah berburu cinderamata dari tiap daerah. 

Malam ini, acara Borobudur International Arts and Performance Festival (BIAPF) 2018 ditutup dengan tiga buah lantunan keroncong Endah Laras. Suara pelantang membuat suara maestro keroncong Indonesia makin melengking; seingat saya, salah satu lagu yang dinyanyikan adalah lagu Sepasang Bola Mata. 
Endah Laras, sang maestro melantunkan tiga lagu keroncong
Endah Laras, sang maestro melantunkan tiga lagu keroncong
Saya merasa puas dapat menjadi saksi pembukaan BIAPF 2018 atas undangan Genpi Jawa Tengah. Di sana, saya dan teman lainnya menikmati pagelaran sampai usai. Lalu pulang menuju hotel menggunakan bus. Malam semakin larut, hawa dingin makin menusuk. 

Bermalam di Hotel Puri Asri Magelang 
Rasa capek menggelayut di raga. Sesampai di hotel, saya langsung terlelap tidur. Agenda besok pagi main air, Rafting Sungai Progo. 

Hotel Puri Asri Magelang berdekatan dengan Taman Kiayi Langgeng. Hotel ini mempunyai lahan luas dan berkonsep resort. Jika hotel lainnya membangun dengan bangunan menjulang tinggi, Puri Asri melakukan hal yang berbeda. 
Kamar di Hotel Puri Asri Magelang
Kamar di Hotel Puri Asri Magelang
Tempat ini lebih nyaman bagi kalian yang ingin staycation di hotel. Berbagai fasilitas seperti Arung Jeram, Basket, dan olahraga lainnya tersaji. Kita tinggal pilih yang mana ingin dilakukan. 

Setiap bangunan/komplek mempunyai nama sendiri-sendiri diambil dari nama bunga. Lokasi yang luas membuat pihak hotel menyiapkan shuttle untuk mengantar/menjemput pengunjung. Bagi yang suka jalan kaki, tempat ini cocok diinapi. 

Pagi ini saya mengelilingi hotel. Memotret sudut hotel, dan bermain basket. Selain itu, saya juga menyempatkan baca buku di beberapa tempat berbeda. Di dalam kamar, di area kolam renang, dan di tempat duduk luar yang ditutupi payung. 
Sudut hotel yang menarik diabadikan
Sudut hotel yang menarik diabadikan
“Kamar nomor 197,” Celetukku saat berkunjung ke restoran. 

Petugas resepsionis di restoran mengecek kamar yang saya maksud. Setelah memastikan nama saya ada, saya dipersilakan untuk sarapan pagi di Restoran Pringgrodani. Restoran ini sudah beberapa kali diubah, bahkan ruang yang di sisi barat awalnya bersekat kaca sudah dibuka. 

Tidak banyak makanan yang saya pilih. Cukup menikmati nasi goreng dengan lauk omelet, beberapa lauk lainnya, ditambahi buah, air mineral, dan kopi tanpa gula. Pagi ini harus mengisi perut lebih dulu sebelum beraktivitas. 

Usai sarapan, seluruh peserta acara ini berkumpul di dekat suangi Progo. Hampir semua peserta ikut arung jeram. Ada beberapa yang tidak ikut (termasuk saya). Saya sudah berkali-kali arung jeram di sini, biar yang lain saja. Saya sudah berniat, di sini nantinya menghabiskan bacaan buku yang saya tenteng. 
Sarapan di Restoran Pringgodani, Hotel Puri Asri Magelang
Sarapan di Restoran Pringgodani, Hotel Puri Asri Magelang
Menjelang tengah hari, kami berkumpul dan makan siang bersama. Agenda sedari kemarin usai, waktunya berpisah dengan teman sejawat. Ada yang pulang, dan ada yang melanjutkan perjalanan. Saya sendiri sudah mempunyai rencana lain menghabiskan akhir pekan di tempat lain. 

Terima kasih Disporapar Jawa Tengah dan Genpi Jawa Tengah atas undangan menyemarakkan Borobudur International Arts and Performance Festival 2018. Semoga ke depannya kita bisa berkolaborasi lagi. *Magelang, 06 – 07 Juli 2018.

6 komentar:

  1. Wah..... Mantafffff keren banget Terimaksih info nya kaka

    BalasHapus
  2. Oh ini. Eheheeee *ketawa penuh arti* 🙊🙊🙊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan kaget kalau nanti blog ini bakal sering posting ya.
      Demi menjaga blog pertama aman dari artikel-artikel titipan *eh

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.