Review Buku Dewa Ruci: Pelayaran pertama menaklukkan tujuh samudra

Buku Dewa Ruci koleksi pribadi
Buku Dewa Ruci koleksi pribadi

Judul: Dewa Ruci - Pelayaran Pertama Menaklukkan Tujuh Samudra
Penulis: Cornelis Kowaas
Penerbit: Kompas, 2010
Tebal: 472 halaman
No ISBN: 9789797095284
Kategori: Non Fiksi, Umum

Buku Dewa Ruci ini merupakan cerita tentang pelayaran yang pernah dilakukan oleh kapal Dewa Ruci. Buku ini pernah terbit pada tahun 1965 dengan judul Dewa Rutji; Sang Saka Melanglang Jagad. Bahkan menjadi buku yang best-seller. Bahkan pada tahun 1968, buku ini pernah hilang secara misterius dari rak-rak toko buku di seluruh Indonesia.

Penerbit Buku Kompas kembali menerbitkan ulang buku Dewa Ruci, termasuk menyunting kata-kata agar menjadi lebih relevan dibaca. Buku yang saya miliki ini terbitan tahun 2010, tepatnya pada bulan oktober. Buku Dewa Ruci ini tebalnya 441 halaman, belum termasuk sampul dan prakata.

KRI Dewa Ruci adalah kapal yang mengharumkan Indonesia di seluruh dunia, khususnya dibidang kemaritiman. Nama Dewa Ruci begitu melegenda di seluruh dunia. Kapal yang mencetak para angkatan laut menjadi tangguh ini mengelilingi dunia pada tahun 1964.

Corelis Kowaas sebagai penulis menceritakan sangat detail berkaitan dengan penjelajahannya saat mengarungi tujuh samudra. Penulis menceritakan bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah samudra hanya bertemankan pada kadet dan awak kapal. Mereka dituntut bisa melakukan berbagai hal selama di atas kapal.

Kutipan-kutipan yang ada di buku Dewa Ruci antara lain;

 “Ole Sioh sayanglah di lale”
“Apa tempo betalah kembali”
“Ingat negri, tanah tumpah darah”
“Lagi ibu, bapa, dan saudara”
Lagu dari Maluku – Halaman 17.

“Indonesia very good, I saya, alhamdulillah, very good” – Halaman 77.

Kami teringat pesan Bung Karno ‘Demonstrasikan Keagungan Bangsa Indonesia!’” – Halaman 211.

“Heavens. They walk like a gods!” (Ya Tuhan! Kalian berjalan bak dewa-dewa) – Halaman 241.

Kisah-kisah heroik dan sendu tertutur rapi dari penulis. Latar belakang penulis seorang reporter sekaligus juru kamera membuat kita seakan-akan terlarut dalam tiap alur yang diceritakan. Bagaimana kala kapal harus menerjang ganasnya samudra pasifik, atau garangnya lautan atlantik yang dikenal sebagai lautan paling ngeri ditaklukkan kapal Dewa Ruci.

Kapal berukuran kecil ini mempunyai sejarah kuat, menjadi sebuah kebanggaan para taruna dan kadet yang pernah digembleng dengan KRI Dewa Ruci. Bagi para taruna, KRI Dewa Ruci adalah tempat sebenar-benarnya untuk mengabdi. Penulis menceritakan bagaimana perjalanan panjang mereka meninggalkan negeri Indonesia; terintimidasi di selat malaka, atau melintasi Laut Sokotra.

Perjalanan juga mengantarkan Dewa Ruci sampai di Terusan Suez, Casablanca, Atlantik, dan Bermuda. Bahkan mereka dikenal para masyarakat di mana mereka singgah sebagai orang-orang kecil yang tangguh nan ramah. Bentuk KRI Dewa Ruci pun membuat para masyarakat di negara lain berbondong-bondong ingin naik ke geladak kapal dan mengabadikan dirinya di sana.

Bagi para orang manca yang pernah melihat secara langsung perjalanan KRI Dewa Ruci, mereka pastinya berkata bahwa kapal tersebut sangat indah, dan taruna-taruna di atas kapal adalah sosok yang ramah. Bahkan sebuah komentar mengatakan bahwa para taruna dan kadet itu layaknya dewa-dewa yang berbaris di atas kapal penuh keberanian.

Para taruna/kadet KRI Dewa Ruci pun dengan hebatnya dapat mengenalkan Indonesia di belahan dunia lain. Mereka tidak hanya tampil dengan seragam taruna, tapi mereka ikut serta tampil layaknya karnaval dengan mengambil budaya Indonesia. Budaya tersebut diperkenalkan setiap mereka sandar di negara lain.

Ada banyak cerita yang tidak bisa saya sampaikan di sini. Buku ini menjadi sebuah pemantik bagi pembacanya. Terlebih jika kalian adalah seorang pecinta petualangan. Dewa Ruci bercerita tentang dedikasi, rasa nasionalis, patriolisme, dan mereka adalah para taruna-taruna yang siap mati membela Indonesia.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.